ADAB TERHADAP ORANG TUA DAN GURU
ADAB
TERHADAP ORANG TUA DAN GURU
A.
Perilaku Hormat dan Taat Kepada Orang Tua dan Guru
1.
Hormat dan Taat Kepada Orang Tua
۞وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعۡبُدُوٓاْ
إِلَّآ إِيَّاهُ وَبِٱلۡوَٰلِدَيۡنِ إِحۡسَٰنًاۚ إِمَّا يَبۡلُغَنَّ عِندَكَ ٱلۡكِبَرَ
أَحَدُهُمَآ أَوۡ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَآ أُفّٖ وَلَا تَنۡهَرۡهُمَا
وَقُل لَّهُمَا قَوۡلٗا كَرِيمٗا ٢٣
Artinya: Dan Tuhanmulah menetapkan supaya kamu jangan menyembah
selain Dia dan hendaklah (kamu berbakti) kepada kedua orang tua kebaktian
sempurna. Jika seorang diantara keduanya atau kedua-duanya mencapai ketuaan
disisimu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya
perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya dan ucapkanlah kepada
keduanya perkataan yang mulia. (Q.S Al-Isra : 23).[1]
Ada beberapa hal yang ditegaskan
oleh Allah Swt. dalam ayat ini, yaitu:
a. Agar manusia tidak menyembah atau
beribadah kepada Tuhan selain Allah Swt. Termasuk larangan mempercayai ada
kekuatan lain yang mempengaruhi dan menguasai jiwa dan raga selain yang datang
dari Allah Swt.
b. Agar manusia berbuat baik (ihsan)
kepada ibu dan bapak. Perintah berbuat baik kepada orang tua disampaikan oleh
Allah bersamaan atau sesudah perintah beribadah hanya kepada Allah. Hal ini
tentu mengandung maksud agar manusia mengerti dan menyadari bahwa betapa
pentingnya berbuat baik terhadap kedua orang tua.
c. Nikmat yang diterima oleh manusia
paling banyak datangnya dari Allah Swt. kemudian nikmat yang diterima dari
orang tua. Oleh karena itu kewajiban anak adalah berterima kasih kepada orang
tua. Bentuk terima kasih tersebut adalah dengan cara berbuat baik kepada beliau
berdua.
d. Apabila salah seorang diantara
kedua Orang tuanya atau kedua-duanya telah berumur lanjut sehingga mengalami
kelemahan jasmani sehingga tidak bisa lagi mencari nafkah, mereka harus hidup
bersama anakanaknya agar mendapatkan nafkah dan perhatian. Oleh karena itu anak
wajib memperlakukan mereka dengan sebaik-baiknya. Bahkan secara khusus dalam
ayat tersebut menegaskan anak tidak boleh berkata kasar seperti berkata “ ah”
dan sejenisnya serta tidak boleh membentaknya.[2]
Mengapa Allah Swt. memerintahkan
kepada manusia agar berbuat baik kepada orang tua? Ada beberapa alasan yaitu:
1) Orang tua
telah mencurahkan seluruh kasih sayangnya kepada anakanaknya agar mereka
menjadi anak yang sehat secara jasmani dan menjadi anak yang saleh dan salehah
serta terhindar dari jalan yang sesat.
3) Anak-anak
adalah belahan jiwa ibu Bapak. Terutama ibu, biasanya ibu tidak akan makan
sebelum anaknya makan, ibu tidak akan tidur sebelum anak-anaknya tidur dan jika
anak sakit maka ibu yang paling susah sehingga beliau tidak bisa tidur dan
tidak enak makan.[3]
Berikut dipaparkan bagaimana prinsip-prinsip dasar berbakti kepada kedua
orang tua, yaitu :
a)
Hendaklah kita selalu tunduk dan patuh kepada kedua oramg tua dalam
segala hal yang baik-baik. Apabila keduanya berada dalam keka¿ran (belum
beragama Islam) dan keduanya memerintahkan untuk keluar dari agamaIslam, atau
memerintahkan sesuatu perbuatan syirik, kita wajib tidak mengikuti keduanya.
Tetapi penolakan itu harus dengan cara halus. Agar tidak menyakiti keduanya.
أَلَمۡ
تَرَ أَنَّ ٱلۡفُلۡكَ تَجۡرِي فِي ٱلۡبَحۡرِ بِنِعۡمَتِ ٱللَّهِ لِيُرِيَكُم مِّنۡ
ءَايَٰتِهِۦٓۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَٰتٖ لِّكُلِّ صَبَّارٖ شَكُورٖ ٣١
Artinya:
”Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik ) kepada orang ibu
bapaknya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah
dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada Ku dan kedua orang tua ibu
bapakmu, hanya kepada Kulah kamu kembali” (QS. Luqman [31] : 14)
b)
Kita dilarang
berkata kasar, membentak misalnya berkata hus / ah dan kata kata sejenisnya, yang termasuk
ungkapan yang tidak baik. Firman Allah Swt.
Kita dilarang
berkata kasar, membentak misalnya berkata hus / ah dan kata kata sejenisnya, yang termasuk
ungkapan yang tidak baik. Firman Allah Swt.
إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلَّذِينَ ٱتَّقَواْ وَّٱلَّذِينَ
هُم مُّحۡسِنُونَ ١٢٨
Artinya:”Tuhanmu telah memerintahkan supaya
kamu jangan menyembah selain Dia dan agar kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu
dengan sebaikbaiknya, jika salah seorang diantara kedduanya sampai berusia
lanjut atau keddua-keduanya sampai berusia lanjut daam pemeliharaanmu, maka
sekali-kali janganlah kamu mengatakan”ah” dan janganlah kamu membentak mereka
dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS. Al-Isra [17] : 23)
c)
Apabila orang tua atau salah satunya mencapai usia lanjut kita
harus berbuat baik kepadanya, sebagaimana orang tua merawat kita pada saat kita
masih kecil.
إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلَّذِينَ
ٱتَّقَواْ وَّٱلَّذِينَ هُم مُّحۡسِنُونَ ١٢٨
Artinya:”Dan rendahkanlah dirimu terhadap
mereka berdua dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah”wahai Tuhanku
kasihanilah merekakeduanya, sebagaimana (kasih mereka) mendidikku waktu kecil.”
(QS. Al- Isra [17] : 240)
e) Kita dilarang durhaka kepada kedua orang ibu
bapak, sebab itu termasuk dosa besar, berdasarkan hadis :
ألا
أنبعكم بأكبر الكبائر ثلاثا. قالو : بلى يارسول الله . قا ل: الأشراك با الله ,
وعوقو الو الدين وشها دة الز ور (رواه البخاري
Artinya;”Ingatlah,
maukah aku kabarkan kepadamu tentang dosa besar yang paling besar itu ada 3
macam ? Para sahabat menjawab : “Baik ya Rasulullah” Bersabdalah Nabi :”yaitu
syirik kepada Allah, durhaka kepada orang tua dan menjadi saksi palsu.” (HR.
Bukhari).
f). Senantiasa mendoakan, baik kepada orang tua
yang masih hidup, maupun yang sudah wafat.
g) Jika orang tua kita sudah wafat, maka
kewajiban kita adalah:
1) Memandikan, mengkafani, menshalati dan
menguburnya.
2)
Melaksanakan wasiatnya (yang baik) jika berwasiat.
3) Melunasi
tanggungan/hutang-hutangnya jika punya hutang
Meneruskan perjuangannya.
4) Senantiasa
menjalin hubungan baik dengan orang-orang yang pernah menjadi teman karib orang
tua kita.
5) Memohonkan
ampun untuk mereka dan senantiasa mendoakannya.[5]
2. Hormat dan Taat kepada Guru
Di samping kita berkewajiban berbakti kepada orang tua, kita juga berkewajiban bersikap hormat dan patuh kepada guru. Bagi pelajar yang setiap hari berhubungan dengan gurunya, adab dan sopan santun merekaperlu diperhatikan dan dilaksanakan, sebagaimana diperintahkan Nabi dalam hadis berikut :
وقروامنتعلمون منه
العلم (رواه الخطيب)
Artinya:”Muliakanlah
orang-orang yang telah memberikan pelajaran (ilmu) kepadamu.” (HR. Al-Khatib)
Berikut yang termasuk tata krama
menghargai dan menghormati guru ialah sebagai berikut:
a. Jika bertemu dengan guru ucapkanlah salam
b. Perhatikan ketika guru sedang memberi pelajaran
c. Tunjukkan rasa rendah hati dan hormat serta sopan santun
d. Mentaati
perintahnya selama perintah itu tidak bertentangan dengan ajaran agama
e. Senantiasa
menjaga nama baik guru, tidak menceritakan aib dan kesalahan guru.
f. Mengunjungi guru jika ia sedang sakit atau mendapat musibah.
g. Tetap mengakuinya sebagai guru walaupun sudah tidak mengajar
lagi.
KESIMPULAN
1. Ada beberapa hal yang ditegaskan
oleh Allah Swt dalam Q.S Al isra ayat 23 ini, yaitu: Agar manusia tidak menyembah
atau beribadah kepada Tuhan selain Allah Swt, Agar manusia berbuat baik (ihsan)
kepada ibu dan bapak, Nikmat yang diterima oleh manusia paling banyak datangnya dari
Allah Swt, Apabila salah seorang diantara kedua Orang tuanya atau kedua-duanya
telah berumur lanjut sehingga mengalami kelemahan jasmani sehingga tidak bisa
lagi mencari nafkah, mereka harus hidup bersama anakanaknya agar mendapatkan
nafkah dan perhatian
2.
Melalui Q.S Al Baqarah ayat 83 tersebut Allah Swt. memerintahkan
kepada kita untuk bertutur kata yang baik kepada manusia. Teman, kerabat,
keluarga, Bapak/Ibu guru, dan orangtua wajib diperlakukan dengan baik. Berkata
dan berperilaku santun kepada mereka akan membuat harga diri kita meningkat.
Kita akan dihargai dan dihormati ketika kita juga menghormati.
3.
Hari kiamat merupakan hari pada saat segala sesuatu yang ada di
dunia dan seluruh alam semesta akan binasa dan setelah itu manusia dibangkitkan
dari alam kubur ke alam akhirat untuk menerima pengadilan dari Allah. Beriman
kepada hari kiamat artinya kita meyakini dengan sungguh-sungguh bahwa pada
suatu saat nanti alam semesta dan isinya ini akan berakhir.
[1] M.
Quraisy Shihab, Tafsir Al-Misbah, (Jakarta: Lentera Hati, 2002), 442.
[2] Tim
Kementerian Agama, Buku Siswa Aqidah Akhlak, cet.Ke-1 (Jakarta:
Kementerian Agama Republik Indonesia, 2014), 98.
[3] Ibid., 98-99.
[4] Ibid.,
99-100.
[5] Ibid.,
100-101.
[6] Ibid.,
101-102.
Komentar
Posting Komentar