AKHLAK TERPUJI
AKHLAK
TERPUJI
A.
Akhlak
Terpuji
1.
Berperilaku
Jujur
Menurut
KBBI, jujur artinya lurus hati, tidak curang, dan disegani. Kejujuran menjadi
hilang apabila seseorang berkata atau berbuat tidak sesuai dengan kata hati,
atau sudah berganti dengan kecurangan atau kebohongan.[1]
Dalam istilah keagamaan, jujur identik dengan kata ash-shidqu yang
berarti “benar”. Firman Allah dalam QS. At-Taubah: 119)
وَٱلَّذِينَ
ءَامَنُواْ مِنۢ بَعۡدُ وَهَاجَرُواْ وَجَٰهَدُواْ مَعَكُمۡ فَأُوْلَٰٓئِكَ
مِنكُمۡۚ وَأُوْلُواْ ٱلۡأَرۡحَامِ بَعۡضُهُمۡ أَوۡلَىٰ بِبَعۡضٖ فِي كِتَٰبِ ٱللَّهِۚ
إِنَّ ٱللَّهَ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمُۢ ٧٥
“Wahai
orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan bergaullah kamu
bersama-sama orang-orang yang jujur (benar).”
Ungkapan وَكُونوا
مَعَ الصَّدِقِيْنَ dalam ayat tersebut dapat
diartikan: “jadilah kamu orang-orang yang jujur”. Artinya, jujur dalam
berbicara, bersikap maupun bertindak.[2]
Selain itu, Rasulullah saw. bersabda:
عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ اَلاَوَاِنَّ
الصِّدْقَ يَضُرُّ اِلَى اْلبِرِّ وَالْبِرِّ يَضُرُّ اِلَى الْجَنَّةِ
وَاِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ اَلاَوَاِنَّ الْكَذِبَ يَضُرُّ اِلَى الْفُجُرِ
وَالْفُجُرِ اِلىَ النَّارِ.
“Berpeganglah
pada kejujuran, ketahuilah kejujuran itu akan membawa pada kebaikan, dan
kebaikan akan membawa ke surga. Dan jauhilah kebohongan, ketahuilah kebohongan
itu akan menyeret terjadinya keburukan, dan keburukan akan membawa ke neraka”.[3]
Bentuk-bentuk kejujuran yaitu:
a. Jujur
dalam niat, maksudnya ialah bahwa engkau mencari ridha Allah dalam setiap
ucapan yang keluar dari mulutmu.[4]
b. Jujur
dalam ucapan, dalm hal ini memiliki beragam bentuk, diantaranya jujur dalam
berbicara tentang Al-Qur’an. Nabi saw. bersabda “siapa yang berbicara tentang
Al-Qur’an tanpa dilandasi ilmu, hendaknya ia menyiapkan tempatnya di neraka”. Maksud dari hadist tersebut ialah
janganlah engkau memberi fatwa dan menafsirkan Al-Qur’an sementara engkau
sendiri tidak mengetahuinya.[5]
c. jujur
dalam tindakan, yaitu berperilaku sesuai dengan niat maupun amanah yang telah
diberikan orang lain.
Berbohong boleh dilakukan
dalam 3 keadaan saja, yaitu:
a. Berbohong
dalam perang, sebab perang adalah tipu muslihat.
b. Berbohong
untuk mendamaikan manusia, diperbolehkan bila untuk mendamaikan dua belah pihak
yang saling bermusuhan. Misalnya engkau mengatakan kepada pihak pertama “Dia
berbicara baik tentangmu, dia memujimu meskipun orang lain mencelanya”. Lalu
engkau mendatangi pihak kedua dan mengatakan hal yang sama.
c. Berbohong
kepada istri, maksudnya bukan mengkhianati, tetapi berbohong atas sesuatu yang
membuatnya senang dan baik. [6]
Kejujuran
dimiliki bukan karena agamanya, bukan karena hafal Al-Qur’an, bukan pula karena
shalat dan puasanya rajin, tetapi karena adanya keimanan yang kuat. Dalam
menerapkan kejujuran perlu ditanamkan kesadaran jiwa, pada saat melakukan
kejahatan atau kemaksiatan, mungkin orang lain tidak mengetahui perbuatan kita,
tetapi Allah mengetahui perbuatan kita[7].
Contoh
berperilaku dalam kehidupan sehari-hari, yaitu:
a. Tidak
mencuri barang orang lain.
b. Berkata
jujur.
c. Tidak
mencontek pada waktu ulangan.
d. Mengerjakan
PR di rumah.
e. Mengambil
barang yang telah ditemukan (barang temuan).
f. Berpamitan
pada orangtua sesuai tempat tujuan pergi.
g. Berkata
apa adanya.
h. Mengembalikan
uang lebihan jika penjual salah menghitung uang kembalian.
i. Mengembalikan uang kembalian belanja ibu.[8]
2. Amanah
Amanah
berasal dari kata amina-ya’manu-amnan-wa amanatan yang berarti aman.
Pihak yang menyerahkan dan pihak yang menerimanya sama-sama aman, tidak cemas
dan tidak merasa khawatir dikhianati. Secara etimologis amanah berarti
kejujuran, kepercayaan, kebalikan dari khianat, terkadang diartikan juga dengan
keadaan aman. Dalam hal amanah ada 3 hal, yaitu pihak yang memberi amanah, hal
yang diamanahkan, dan pihak yang menerima amanah. Maka, diperlukan kejujuran
untuk memelihara dan menjaga sebaik-baiknya segala sesuatu yang diamanahkan
sehingga tetap terjaga dengan aman. Firman Allah swt. QS. Al-An’am: 83
لِلَّهِ مُلۡكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ
وَٱلۡأَرۡضِ وَمَا فِيهِنَّۚ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرُۢ ١٢٠
"Kami
tinggikan siapa yang Kami kehendaki beberapa derajat. Sesungguhnya Tuhanmu Maha
Bijaksana lagi Maha Mengetahui."
QS. Al-Anfal: 27
إِنَّ ٱلَّذِينَ عِندَ
رَبِّكَ لَا يَسۡتَكۡبِرُونَ عَنۡ عِبَادَتِهِۦ وَيُسَبِّحُونَهُۥ وَلَهُۥ
يَسۡجُدُونَۤ۩ ٢٠٦
“
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul
(Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang
dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.”
QS. An-Nisa’: 58
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ
ءَامَنُواْ ٱصۡبِرُواْ وَصَابِرُواْ وَرَابِطُواْ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمۡ
تُفۡلِحُونَ ٢٠٠
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan
amanat kepada yang berhak menerimanya.”
Dari
ketiga ayat tersebut, masing-masing menyebut al-amanat dalam bentuk
jama’, terdapat tiga kategori amanah, yaitu:
a. Amanah
manusia dengan Tuhannya, yaitu manusia berkewajiban menjalankan perintah agama,
terutama mengenai hak-hak Allah atas
diri hamba.
b. Amanah
manusia dengan sesamanya, yaitu manusia harus menjalankan amanah yang terjadi
antar sesamanya. Setiap orang yang diangkat dalam jabatan publik mengemban
amanah kategori ini.
c. Amanah
manusia dengan dirinya sendiri, yaitu setiap pribadi manusia memiliki tanggung
jawab amanah untuk dirinya, seperti makan atau menjaga kesehatan dirinya.[9]
Jadi,
amanah dari Allah kepada manusia adalah akal, kemampuan berlaku adil, dan tugas
kagamaan. Amanah disini bukanlah keimanan, karena kalau keimanan, semua makhluk
Allah yang ada di langit dan di bumi sujud kepada Allah. Arti sujud kepada
Allah adalah tunduk dan beirman (lihat QS. Ar-Ra’du:15, An-Nahl: 49 dan
Al-Hajj:18).
Penolakan
langit, bumi dan gunung-gunung mengemban amanah, karena sifat penciptaannya
memang tidak memiliki kepantasan untuk melaksnakan amanah tersebut. Sebaliknya,
penerimaan manusia terhadap amanah itu, karena secara fitrah, manusia sudah
dianugeragi sifat-sifat kepantasan untuk mengemban amanah, yaitu dianugerahi
akal yang bisa mempertimbangkan perbuatan baik dan buruk.[10]
Contoh
perilaku amanah, yaitu:
a. Menjaga
titipan dan mengembalikannya seperti keadaan semula.[11]
Contohnya, ketika kita meminjam atau dititipi suatu barang oleh orang lain,
seperti buku, pensil atau barang lainnya, maka kita harus mengembalikan dalam
keadaan yang baik pula. Bila ada kerusakan pada barang, hendaknya kita memberi
tahu pada pemilik barang dan menggantinya dengan barang yang baru, lebih bagus
atau yang sepadan dengan barang tersebut.
b. Menjaga
rahasia.[12] Menjaga
rahasia merupakan salah satu cara menerapkan perilaku amanah dalam kehidupan
kehidupan sehari-hari. Contohnya, ketika teman atau seorang sahabat
menceritakan rahasianya kepada kita, berarti teman atau sahabat tersebut
memberikan kepercayaan yang lebih terhadap kita. Sehingga, kita harus menjaga
amanah tersebut, karena teman atau sahabat tadi juga meminta agar diri kita
saja yang mengetahuinya.
c. Tidak
menyalahgunakan jabatan.[13]
Contohnya, ketika kita ditunjuk menjadi bendahara kelas, maka kita harus
mencatat setiap pemasukan dan pengeluaran uang dengan sedetail-detailnya tanpa
ada kebohongan. Selain itu, kita tidak boleh menggunakan uang bendahara kelas
untuk kepentingan pribadi.
d. Melaksanakan
tugas dengan baik.[14]
Contohnya, kita harus melaksanakan tugas yang diembankan kepada kita, baik itu
dari orangtua, guru, atau orang lain.
3. Istiqomah
Istiqomah
artinya taat asas atau teguh pendirian, tidak mudah terpengaruh oleh situasi
yang berkembang, sehingga tetap pada apa yang diyakini sebelumnya. Misalnya
“sekali belajar tetap belajar”, “sekali beriman kepada Allah tetap beriman
kepada Allah”. Ungkapan seperti itu menggambarkan keteguhan pendirian.
Tegasnya, istiqomah perlu ditetapkan dalam semua bentuk perjuangan manusia,
apabila perjuangannya ingin berhasil. Kegagalan sebuah perjuangan boleh jadi
disebabkan oleh faktor istiqomah yang hilang dari jiwa.[15]
Al-Qur’an
mengajarkan kepada manusia untuk istiqomah, utamanya dalam hal berpegang teguh
pada keyakinan akan Allah swt. namun, bukan berarti di luar masalah akidah
(keyakinan), seseorang tidak perlu istiqomah. Pada dimensi-dimensi lain pun
istiqomah wajib dipegang kuat-kuat agar segala yang dicita-citakan berhasil.
Firman Allah swt. QS. Al-Ahqaf: 13 yang artinya, “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan:
"Tuhan Kami ialah Allah", kemudian mereka tetap istiqomah, tidak akan
ada rasa khawatir terhadap mereka dan mereka tiada (pula) bersedih hati”.
Dalam ayat yang lain QS.
Fushshilat: 30 dijelaskan
فَلَمۡ يَكُ يَنفَعُهُمۡ
إِيمَٰنُهُمۡ لَمَّا رَأَوۡاْ بَأۡسَنَاۖ سُنَّتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِي قَدۡ خَلَتۡ فِي
عِبَادِهِۦۖ وَخَسِرَ هُنَالِكَ ٱلۡكَٰفِرُونَ ٨٥
“Sesungguhnya
orang-orang yang mengatakan: "Tuhan Kami ialah Allah" kemudian mereka
meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka dengan
mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih dan bergembiralah
kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu".[16]
Contoh perilaku Istiqomah yaitu, membaca Al-Qur’an setiap hari satu lembar
dikerjakan secara istiqomah lebih baik daripada membaca Al-Qur’an satu minggu
satu juz saja.
4. Berempati
Menurut
KBBI, empati adalah keadaan mental yang membuat seseorang merasa atau
mengidentifikasi dirinya dalam keadaan perasaan atau pikiran yang sama dengan
orang atau kelompok lain. Dalam istilah lain, empati dapat diartikan sebagai
kemampuan untuk menyadari diri sendiri atas perasaan seseorang, lalu bertindak
untuk membantunya. Empati sama dengan rasa iba atau kasihan kepada orang lain
yang terkena musibah. Islam sangat menganjurkan sikap empati. Rasulullah saw
bersabda: “dari Abi Musa r.a. dia berkata, Rasulullah saw. bersabda, orang
mukmin yang satu dengan yang lain bagai satu bangunan yang bagian-bagiannya
saling mengokohkan.” (H.R Bukhari).
Perilaku
empati terhadap sesama dalam kehidupan sehari-hari dapat diwujudkan dengan cara:
1. Peka
terhadap perasaan orang lain.
2. Membayangkan
seandainya aku adalah dia.
3. Berlatih
mengorbankan milik sendiri.
4. Membahagiakan
orang lain.[17]
Contoh
berempati, ketika teman kita mendapat suatu musibah maka hati kitapun juga ikut
merasa sedih, lalu kita berfikir dan bertindak untuk mambantu dan
menghiburnnya.
5. Menghormati Orang Tua
Berbakti
kepada orang tua hukumnya wajib jika seorang anak tidak berbakti kepada orang tua,
apalagi mendurhakai orang tua, maka ia telah berdosa karena melanggar kewajiban
yang dibebankan kepadanya. Seseorang disebut durhaka jika tidak mau berbakti
kepada orang tua, atau menentang dalam hal kebaikan atau menyakiti hati mereka.[18]
Seorang anak tidak boleh berkata kasar dan menyakitkan kepada orang tua. Firman
Allah QS Al-Isra’: 23
إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلَّذِينَ ٱتَّقَواْ وَّٱلَّذِينَ
هُم مُّحۡسِنُونَ ١٢٨
“Dan Tuhanmu telah
memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu
berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di
antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka
sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya Perkataan "ah"
dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang
mulia”.[19]
Perintah untuk berbakti dijelaskan dalam QS Al Ahqaf: 15,
yang artinya “Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua
orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya
dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh
bulan” [20]
Menurut Usman Al-Kahibawai
ada sepuluh hak orang tua yang harus ditunaikan oleh anaknya, yakni memberikan
makan bila diperlukan, memberikan pengabdian sepenuhnya, mendatangi bila dipanggil,
mentaati bila diperintah untuk melaksanakan selain maksiat, berbicara dengan
sopan dan lemah lembut, memberikan pakaian sekalipun keduanya mampu membeli
sendiri, bila mendampingi berjalan agak menarik diri kebelakang, senantiasa
mengusahakan untuk mendapat keadilan, menjauhkan diri dari tindakan yang
dijauhi orang tua, senantiasa berdoa dan memohonkan ampun untuk keduanya setiap
kali berdoa untuk diri sendiri.
Contoh perilaku
menghormati orangtua yaitu:
a. Tidak
berbicara kasar kepada orangtua (tidak membentak).
b. Melakukan
perintah orangtua yang tidak melanggar syariat Islam.
c. Tidak
membantah orangtua dengan senang hati.
d. Berjalan
membungkuk ketika kita lewat didepan orangtua.
e. Berbicara
dengan orangtua menggunakan bahasa yang baik dan tidak kasar.
f. Mendahulukan
orangtua untuk mengambil makanan.
g. Membantu
pekerjaan rumah (membersihkan rumah).
h. Berpamitan
kepada orangtua saat akan bepergian.
i. Mengucapkan
salam kepada orangtua saat pergi maupun ssat pulang bepergian.
j. Tidak
mengganggu orangtua saat beribadah.
k. Tau
kewajiban diri sendiri dan tidak membuat emosi orangtua.[21]
6. Menghargai Guru
Islam mengajarkan hendaknya murid menghormati guru dan
memuliakanya. Dalam proses pendidikan dibutuhkan kehadiran guru sebagai
fasilitator yang memungkinkan terciptanya kondisi yang baik bagi peserta didik
untuk belajar, karena guru memiliki serangkaian tanggung jawab profesional
untuk terus menerus menngkatkan wawasan para peserta didik.[22]
Rasulullah
SAW bersabda:
وَقِّرُوْا مَنْ تَتَعَلَّمُوْنَ مِنْهُ
Artinya:
”Muliakanlah orang yang kamu belajar daripadanya” (Riwayat Abul Hasan
Al-Mawardi).
Sabda
beliau yang lain:
أَكْرِمُوْا حَمْلَةَ اْلقُرْانِ فَمَنْ أَكْرِمَهُمْ
فَقَدْ أَكْرَمِنِي
“Muliakanlah guru-guru agama, karena
barangsiapa yang memuliakan mereka, berarti ia memuliakan aku”. (Riwayat Abul
Hasan Al-Mawardi).[23]
Akhlak
terhadap guru tercermin melalui sikap hormat seperti datang tepat waktu,
berpakain rapi, mendengarkan guru saat guru menerangkan, menjawab saat guru bertanya,
aktif ambil bagian dalam memberikan pemikiran saat diberi kesempatan diskusi
kelas, serta melaksanakan tugas di rumah baik untuk membaca literatur, membuat
resume dan tugas yang lain.[24]
Contoh
menghargai guru, ialah:
a. Seorang
murid tidak berjalan dihadapan guru.
b. Tidak
duduk ditempat guru (kursi guru) bila tidak dipersilahkan oleh guru.
c. Tidak
memulai berbicara atau menyela pembicaraan guru kecuali dengan izin beliau.
d. Tidak
banyak berbicar dihadapan guru.
e. Tidak
bertanya sesuatu bila guru sedang lelah atau bosan.
f. Tidak
menyakiti hati guru dengan bertintak yang tidak sepatutnya dihadapan guru.
g. Menjauhi
hal-hal yang membuat marah guru.[25]
KESIMPULAN
1. Berperilaku
jujur
Kejujuran menjadi hilang
apabila seseorang berkata atau berbuat tidak sesuai dengan kata hati, atau
sudah berganti dengan kecurangan atau kebohongan, maka dari itu jujur adalah
perilaku yang sulit di lakukan oleh pihak lain, dan berperilaku jujur harus
ditanamkan dalam setiap muslim sejak kecil.
2.
Amanah
Amanah
ialah “sesuatu yang di percayakan.” Termasuk di dalamnya segala apa yang di
percayakan kepada seseorang, baik harta maupun ilmu pengetahuan dan sebagainya.
Seeorang pelajar memikul amanah, maka dia wajib menjaga waktu dan memperhatikan
pelajarannya dengan sebaik-baiknya.
3.
Istiqomah
Istiqomah artinya taat
asas atau teguh pendirian, tidak mudah terpengaruh oleh situasi yang
berkembang, sehingga tetap pada apa yang diyakini sebelumnya. Misalnya “sekali
belajar tetap belajar”.
4. Berempati
Empati dapat diartikan
sebagai kemampuan untuk menyadari diri sendiri atas perasaan seseorang, lalu
bertindak untuk membantunya. Empati sama dengan rasa iba atau kasihan kepada
orang lain yang terkena musibah.
5. Menghormati
orang tua
Berbakti kepada orang tua
hukumnya wajib jika seorang anak tidak berbakti kepada orang tua, apalagi
mendurhakai orang tua, maka ia telah berdosa karena melanggar kewajiban yang
dibebankan kepadanya.
6. Menghargai
guru
Akhlak
terhadap guru tercermin melalui sikap hormat seperti datang tepat waktu,
berpakain rapi, mendengarkan guru saat guru menerangkan, menjawab saat guru
bertanya, aktif ambil bagian dalam memberikan pemikiran saat diberi kesempatan
diskusi kelas, serta melaksanakan tugas di rumah baik untuk membaca literatur,
membuat resume dan tugas yang lain.
DAFTAR
PUSTAKA
Syauqi Nawawi, Rifa’at. Kepribadia
Qur’an. Jakarta: Amzah. 2014.
Khaled, Amr. Buku Pintar Akhlak.
Jakarta: Zaman. 2010.
Tono, Sidiq, dkk. Ibadah dan
Akhlak dalam Islam. Jogjakarta: Uii Press. 1998.
Prawiro, Teguh. Aqidah Akhlak.
Jakarta: Yudhistira. 2011.
Tatapangarsa, Humaidi. Akhlak yang
Mulia. Surabaya: Bina Ilmu. Tanpa Tahun.
Az-Zarnuzi, Syekh. Ta’lim
Muta’alim. Terj. Aljufri, Abdul Kadir. Surabaya: Mutiara Ilmu, 2009.
Kisah Muslim, “Berperilaku Amanah
dalam Kehidupan”, diakses dari kisahmuslim.blogspot.co.id/2015/01/berperilaku-amanah-dalam-kehidupan.
Http://www. Bacaan madani. Com/2017/09/pengertian-empati-perilaku-empati.
Brainly, “Tugas”, diakses dari
http://brainly.co.id/tugas/4488983.
[1]
Rif’at Syauqi Nawawi, Kepribadian Qur’ani, (Jakarta: Amzah, 2014), 85.
[2]
Ibid., 87.
[3]
Ibid., 86.
[4]
Amr Khaled, Buku Pintar Akhlak, (Jakarta: Zaman, 2010), 101.
[5]
Ibid., 105.
[6]
Ibid., 111-117.
[7]
Rif’at, Kepribadian Qur’ani, 90-91.
[8] Brainly, “Tugas”, diakses dari http://brainly.co.id/tugas/4488983,
pada 20 Desember 2017 pukul 20:36.
[10]
Ibid., 99.
[11]
Kisah Muslim, “Berperilaku Amanah dalam Kehidupan”, diakses dari
kisahmuslim.blogspot.co.id/2015/01/berperilaku-amanah-dalam-kehidupan, pada 20
Desember 2017 pukul 20:38.
[12]
Ibid.
[13]Ibid.
[14]
Ibid.
[15]
Ibid., 164.
[17]
http://www. Bacaan
madani. Com/2017/09/pengertian-empati-perilaku-empati. Diakses
pada 12 September 2017.
[18]
Sidiq Tono, dkk., Ibadah dan Akhlak dalam Islam, (Jogjakarta: UII Press,
1998), 103.
[19]
Teguh Prawiro, Akidah Akhlak, (Jakarta: Yudhistira, 2011), 63.
[21]
Brainly, “Tugas”, diakses dari http://brainly.co.id/tugas/4488983,
pada 20 Desember 2017 pukul 20:36.
[22]
Sidiq, Ibadah dan Akhlak dalam Islam, 106.
[24]
Sidiq, Ibadah dan Akhlak dalam Islam, 107-108.
[25]
Syekh Az-Zarnuzi, Ta’lim Muta’alim. Terj. Abdul Kadir Aljufri,
(Surabaya: Mutiara Ilmu, 2009), 29-30.
Komentar
Posting Komentar