sejarah dinasti Ayyubiyah


KEMAJUAN ISLAM DINASTI AYYUBIYAH

A.  Sejarah Berdirinya Dinasti Al-Ayyubiyah
Pendiri Dinasti Ayyubiyah (567 – 648 H / 1171 – 1250 M) adalah Shalahudin Yusuf al-Ayyubi putra dari Najamuddin bin Ayyub lahir di Takriet 532 H/1137 M meninggal 589 H/ 1193 M dimasyurkan oleh bangsa Eropa dengan nama Saladin pahlawan perang salib dari keluarga Ayyubiyah suku Kurdi. Dinasti ini berdiri di atas sisa-sisa Dinasti Fatimiyah di Mesir yang bercorak Syi’i dan ia inginmengembalikannya ke faham sunni-Ahlu Sunnah wal Jama’ah. Pada masa Nuruddin Zanki (gubernur Suriah dari bani Abbasiyah), Shalahuddin diangkat sebagai panglima tentara di Ba’labak, kehidupannya penuh dengan perjuangan dan peperangan karena ditugaskan untuk menghadapi tentara salib dalam merebut kembali Baitul Maqdis (kota Yerussalem).[1]
Di saat Mesir mengalami krisis di segala bidang maka orang-orang Nasrani memproklamirkan perang Salib melawan Islam, yang mana Mesir adalah salah satu Negara Islam yang diintai oleh Tentara Salib. Shalahudin al-Ayyubi seorang panglima tentara Islam tidak menghendaki Mesir jatuh ke tangan tentara Salib, maka dengan sigapnya Shalahudin mengadakan serangan ke Mesir untuk segera mengambil alih Mesir dari kekuasaan Fatimiyah yang jelas tidak akan mampu mempertahankan diri dari serangan Tentara Salib. Menyadari kelemahannya Dinasti Fatimiyah tidak banyak memberikan perlawanan, mereka lebih rela kekuasaannya diserahkan kepada Shalahudin dari pada diperbudak tentara salib yang kafir. Maka sejak saat itu selesailah kekuasaan Dinasti Fatimiyah di Mesir, berpindah tangan ke Shalahudin al-Ayyubi. Shalahuddin al Ayyubi yang telah menguasai Halb dan Maushil, menjadikan pasukan salib terkepung di Baitul Maqdis oleh pasukan Shalahuddin al Ayyubi. Di utara oleh pasukan Shalahuddin al Ayyubi di Suriah, dari selatan oleh pasukan di Mesir, dan dari timur pasukan di Yordania. Jadi berdirilah negara Ayyubiyah dengan kepala pemerintahan Shalahuddin al Ayyubi yang wilayahnya mencakup Mesir, Suriah, sebagian wilayah Irak dan Yaman.[2]
Selama lebih kurang 75 tahun dinasti Al-Ayyubiyah berkuasa, terdapat 9 orang yaitu:
Shalahuddin Yusuf Al-Ayyubi(1171-1193 M)
Malik Al-Aziz Imaduddin (1193-1198 M)
Malik Al-Mansur Nasiruddin (1198-1200 M)
Malik Al-Adil Saifuddin, pemerintahan I (1200-1218 M)
Malik Al-Kamil Muhammad (1218-1238 M)
Malik Al-Adil Sifuddin, pemerintahan II (1238-1240 M)
Malik As-Saleh Najmuddin (1240-1249 M)
Malik Al-Mu’azzam Turansyah (1249-1250 M)
Malik Al-Asyraf Muzaffaruddin (1250-1252M)[3]

B.  Perkembangan Kebudayaan/Peradaban Islam pada Masa Dinasti Al-Ayyubiyah
Shalahudin panglima perang Muslim yang berhasil merebut Kota Yerusalem pada Perang Salib itu tak hanya dikenal di dunia Islam, tetapi juga peradaban Barat. Sosoknya begitu mempesona. Ia adalah pemimpin yang dihormati kawan dan dikagumi lawan. Di era keemasannya, dinasti ini menguasai wilayah Mesir, Damaskus, Aleppo, Diyarbakr, serta Yaman. Masa dinasti ini pula perkembangan wakaf sangat menggembirakan, wakaf tidak hanya terbatas pada benda tidak bergerak, tapi juga benda bergerak semisal wakaf tunai. Tahun 1178 M/572 H, dalam rangka menyejahterakan ulama dan kepentingan misi mazhab Sunni, Salahuddin Al-Ayyubi menetapkan kebijakan bahwa orang Kristen yang datang dari Iskandar untuk berdagang wajib membayar bea cukai. Tidak ada penjelasan, orang Kristen yang datang dari Iskandar itu membayar bea cukai dalam bentuk barang atau uang,namun lazimnya bea cukai dibayar dengan menggunakan uang. Uang hasil pembayaran bea cukai itu dikumpulkan dan diwakafkan kepada para fuqaha’ dan para keturunannya.[4]
Sebagaimana dinasti-dinasti sebelumnya, Dinasti Ayyubiyah pun mencapai kemajuan yang gemilang dan mempunyai beberapa peninggalan bersejarah. Kemajuan-kemajuan itu mencakup berbagai bidang, diantaranya adalah :
1.    Bidang Arsitektur dan Pendidikan
Penguasa Ayyubiyah telah berhasil menjadikan Damaskus sebagai kota pendidikan. Ini ditandai dengan dibangunnya Madrasah al–Shauhiyyah tahun 1239 M sebagai pusat pengajaran empat madzhab hukum dalam sebuah lembaga Madrasah. Dibangunnya Dar al Hadist al-Kamillah juga dibangun (1222 M) untuk mengajarkan pokok-pokok hukum yang secara umum terdapat diberbagai madzhab hukum sunni. Sedangkan dalam bidang arsitek dapat dilihat pada monumen Bangsa Arab, bangunan masjid di Beirut yang mirip gereja, serta istana-istana yang dibangun menyerupai gereja. Shalahuddin juga membangun benteng setelah menyadari bahwa ancaman pasukan salib akan terus menghantui, maka tugas utama dia adalah mengamankan Kairo dan sekitarnya (Fustat). Penasihat militernya saat itu mengatakan bahwa Kairo dan Fustat masing-masing membutuhkan benteng pertahanan, tapi Shalahuddin memiliki ide brilian, bahwa dia akan membangun benteng strategis yang melindungi secara total kotanya. Selanjutnya, dia memerintahkan untuk membangun benteng kokoh dan besar diatas bukit Muqattam yang melindungi dua kota sekaligus Kairo dan Fustat.[5]
Proyek besar Citadel dimulai pada 1176 M dibawah Amir Bahauddin Qaraqush. Shalahuddin juga membangun dinding yang memagari Kairo sebagai kota residen bani Fatimiyyah, sekaligus juga memagari benteng kebesarannya serta Qata’i-al Fustat yang saat itu merupakan pusat ekonomi Kairo terbesar. Selain itu, jugaberdiri masjid agung di Sulaiman yang dimulai pembangunannya sejak dinasti Umayyah pada 717 M, masjid agung Aleppo hingga kini masih menjadi salah satu karya besar arsitektur di dunia muslim. Di masjid agung Aleppo terdapat makam Nabi Zakaria dan di Damaskus terdapat makam Nabi Yahya. Bentuk dan konstruksi masjid agung Damaskus dari dulu hingga kini masih terjaga, sementara masjid Aleppo sudah banyak mengalami perubahan dari bentuk aslinya karena sempat diguncang gempa bumi dan dihancurkan oleh serangan Bizantium dan tentara Mongol. Meski tak lagi mewarisi struktur masjid peninggalan bani umayyah, namun masjid agung Aleppo sangat dikenal sebagai masterpiece dalam dunia islam, karena mewarisi sentuhan beragam dinasti islam yang pernah Berjaya.
2.    Bidang Filsafat dan Keilmuan
Bukti konkritnya adalah Adelasd of Bath yang telah diterjemahkan, karya-karya orang Arab tentang astronomi dan geometri, penerjemahan bidang kedokteran. Di bidang kedokteran ini telah didirikan sebuah rumah sakit bagi orang yang cacat pikiran.
3.    Bidang Industri
Kemajuan di bidang ini dibuktikan dengan dibuatnya kincir oleh seorang Syiria yang lebih canggih dibanding buatan orang Barat. Terdapat pabrik karpet, pabrik kain dan pabrik gelas.[6]
4.      Bidang Perdagangan
Bidang ini membawa pengaruh bagi Eropa dan negara–negara yang dikuasai Ayyubiyah. Di Eropa terdapat perdagangan agriculture dan industri. Hal ini menimbulkan perdagangan internasional melalui jalur laut, sejak saat itu Dunia ekonomi dan perdagangan sudah menggunakan sistem kredit, bank, termasuk Letter of Credit (LC), bahkan ketika itu sudah ada uang yang terbuat dari emas.
5.     Bidang Militer
Selain memiliki alat-alat perang seperti kuda, pedang, panah, dan sebagainya, ia juga memiliki burung elang sebagai kepala burung-burung dalam peperangan. Disamping itu, adanya perang Salib telah membawa dampak positif, keuntungan di bidang industri, perdagangan, dan intelektual, misalnya dengan adanya irigasi.[7]

C.  Kebijakan Shalahuddin Yusuf al-Ayyubiyah
Salah satu usaha yang paling berharga yang dimiliki oleh Shalahuddin adalah usahanya dan kemampuannya dalam mempertahankan negara pada saat-saat genting (meskipun berjalan sangat singkat), yaitu ketika moral politik sangat tidak baik. Pada saat itu dia dapat menunjukkan teladan yang baik dalam semua perilakunya. Shalahuddin dapat membuat “bentengbenteng persatuan” yang tangguh untuk menghadapi serangan dari berbagai penjuru. Shalahuddin melihat dengan jelas bahwasannya kelemahan bangunan politik Islam (kelemahan yang memudahkan negara-negara salib memperluas wilayahnya dan mempertahankan diri) adalah akibat dari keruntuhan moral politik Islam. Menurutnya, tidak ada satu jalan pun untuk memperbaikinya kecuali menghidupkan kembali esensi politik Islam di bawah naungan sebuah Daulah yang bersatu. Bahkan bukan di bawah kepemimpinannya, tetapi di bawah pengawasan khalifah Bani Abbasiyah. Kekuatan politik dan militer tidak akan dapat memecahkan problematika yang dihadapi oleh dunia Islam. Oleh karena itu, untuk keberhasilan yang akan dicapai, Shalahuddin menyarankan untuk mengembalikan kepercayaan politik ke tangan orang yang berhak menerimanya dengan lapang dada dan jiwa besar.[8]
Keinginan Shalahuddin untuk memperteguh dan memperkuat kesatuan negara Islam tersebut menimbulkan keraguan sekaligus keheranan di kalangan kawan-kawannya sendiri. Kecakapan dalam mengatur dan memimpin negara sangat mengagumkan, setelah beratus-ratus tahun, ia berhasil dalam menyatukan berbagai elemen-elemen umat Islam di bawah bendera jihad, dengan  membuat mereka melupakan permusuhan dan kecemburuan mereka demi kepentingan Islam. Usaha dan perbuatan Shalahuddin dalam memperkuat persatuan wilayahnya sedikit demi sedikit menemukan hasilnya. Politik yang dijalankan Shalahuddin dalam memperkuat wilayahnya tersebut adalah membentuk suatu kerajaan Islam di bawah satu komando. Shalahuddin meneruskan perjuangan dengan pertempuran-pertempuran yang cukup sengit. Namun akhirnya dengan kegigihan dia dapat menguasai daerah-daerah di seluruh wilayah kekuasaan Islam. Cita-citanya beliau adalah mempersatukan Islam di bawah satu bendera. Berbagai kemenangan dan keberhasilan pasukan yang dicapai telah memberikan sinar kecemerlangan bagi kekuasaan itu. Usaha Shalahuddin dalam mempersatukan wilayah Islam dia teruskan setelah menaklukkan Bairut, kemudian Eufrat, Mosul Amid, Syam dan akhirnya kota Aleppo. Kemudian Shalahuddin menyelesaikan segala urusan di kota tersebut.[9]
Dengan semakin luasnya wilayah kekuasaannya maka semakin banyaklah tentara baru yang berhasil direkrut oleh Shalahuddin. Tibalah saatnya untuk melaksanakan segala cita-citanya. Cita-cita untuk mempersatukan dunia Islam. Sultan Shalahuddin berpendapat bahwa untuk menaklukan musuh (bangsa Eropa) tidak cukup hanya dengan menjatuhkan satu kota tertentu, contohnya daerah Kark. Karena daerah Kark ternyata mempunyai nilai yang strategis dimata Sultan Shalahuddin al-Ayyubi. Daerah ini sangat penting dan bermanfaat sekali bagi kaum muslimin. Terutama gangguan terhadap orang-orang Islam yang akan menunaikan Ibadah Haji. Dengan perhitungan seperti itulah dia tidak ingin berbuat ceroboh dan sembarangan dalam menyatukan wilayah Islam. Jika Shalahuddin dan pasukan-pasukannya mampu memaksa keluar musuh-musuhnya, maka penting untuk menyatukan kekuatan kekuatan orang Islam yang sangat besar. Untuk menciptakan satu kesatuan seperti yang dicita-citakan umat Islam itu sangat penting sekali melibatkan siapapun untuk mencoba melakukan satu ekspansi politik. Shalahuddin al-Ayyubi adalah salah satu pemimpin yang mencoba untuk melakukannya, walaupun harus membayarnya dengan peperangan terhadap orang-orang yang menghalanginya. Dengan begitu mereka akan menyadari adanya pendirian negara yang maju di bawah satu kesatuan dan kekuatan, seperti halnya di Mesir, Syiria serta di Jazirah Arabiyah. Keinginan Shalahudin untuk memperoleh dukungan yang lebih luas dan kerja sama yang baik dalam memerintah serta menjadikan lingkungan yang Agamis, adalah tema-tema yang menginformasikan persatuan dan kesatuan di Baghdad dan tempat-tempat lainnya. Cara-cara di mana idealnya berjihad telah dikembangkan, disebarkan keseluruh masyarakat di bawah pemerintahan Shalahuddin, Shalahuddin menegaskan bahwa jihad yang pokok merupakan tugas para pemimpin muslim untuk ikut berpartisipasi.Penyatuan dunia Islam yang berjalan seiring dengan jihad terus menerus yangdikumandangkan oleh Shalahuddin.[10]
Shalahuddin bukanlah orang lemah yang membicarakan pemecahan tertentu sebagai ganti jihad. Sebab, melalui peperangan yang menggoncang eksistensi material, spiritual dan ideologi umat yang tidak mungkin mensukseskan tujuan yang jauh dari tujuan pertama, sedangkan semua tujuan datang dari sela-sela tujuan ini, karena masyarakat awam yakin, bahwa hal itu merupakan proses yang sepele dan menipu, namun Shalahuddin mampu menyatakan revolusi ekonomi dan kemasyarakatan, dan menarik perhatian masyarakat untuk melihat hakekat ancaman kaum salib yang harus mereka hadapi. Shalahuddin bisa saja membicarakan perjanjian yang panas, dengan lawan-lawannya, atau membahas penyelesaian damai dan mengalah, sehingga fase pengukuhannya dalam panggung pemerintah berjalan lancar dan baru kemudian mengarah kepersatuan dan kesatuan kekuatan Islam. Musyawarah dan berunding merupakan tradisi dan kebiasaan yang dilakukan oleh Shalahuddin. Baik dalam menentukan siasat politik atau menyusun strategi menghadapi sesuatu peperangan atau kekaisaran. Shalahuddin bukanlah seorang yang suka bertindak semaunya, tidak pernah beliau memutuskan sesuatu tanpa musyawarah dengan para pembantunya, padahal sebenarnya beliau dapat saja bahkan memutuskan sesuatu sesuai keinginan sendiri. Shalahuddin terkenal pula sebagai orang yang cerdik, selama masa  pemerintahannya dia tidak pernah memanfaatkan kecerdikannya untuk mempermainkan orang lain.Salah satu bukti kecerdikannya adalah ia mampu menyatukan kekuatan muslim di daerah-daerah yang langsung berhadapan dengan tentara Salib. Dengan keadaan seperti itu Shalahuddin mampu melindungi putra Nuruddin dari pengaruh para pengasuhnya yang sudah mulai bekerja sama dengan tentara Salib.[11]
Di samping itu daerah kekuasaan Shalahuddin bukan hanya meliputi Mesir, Hijaz dan Yaman, tetapi telah meliputi daerah Syiria dan daerah Mesopotamia. Selama 5 atau 6 tahun Shalahuddin hampir terlihat dalam semua urusan di wilayah Mesopotamia tersebut. Hal itu diakibatkan karena daerah tersebut mempunyai masalah yang besar dan sangat sulit sekali untuk diatasi bahkan menjadi ancaman yang akan melelahkan. Pada beberapa kesempatan Shalahuddin mampu untuk membuat mereka mau diundang untuk turun tangan dalam permasalahan wilayah tersebut. Pada saat itu pula Shalahuddin khawatir bahwa wilayah Aleppo dan Mosul tidak seharusnya disatukan dalam wilayah yang saling bermusuhan.[12]


D.  Tokoh Ilmuwan Muslim dan Perannya dalam Kemajuan Kebudayaan/Peradaban Islam pada Masa Dinasti Al Ayyubiyah
Pada masa dinasti Ayyubiyah, Shalahuddin al Ayyubi beserta keluarga dan pendiri-pendiri dinasti sangat memperhatikan kelangsungan berbagai bidang termasuk bidang pendidikan dan pengetahuan. Sehingga bermunculan tokoh-tokoh ilmuwan yang sangat berpengaruh pada perkembangan kebudayaan atau peradaban Islam, mereka di antaranya adalah:
1.       Abdul Latif al Bagdadi dan Al - Hufi, ahli ilmu mantiq dan bayan (bahasa)
2.         Syekh Abul Qasim al Manfalubi, ahli Fiqih
3.        Syamsudin Khalikan, ahli sejarah
4.       Abu Abdullah al Quda’i, ahli Fiqih, Hadits dan Sejarah
5.        Abu Abdullah Muhammad bin Barakat, ahli nahwu
6.        Hasan bin Khatir al Farisi, ahli Fiqih dan Tafsir
7.        Maimoonides, ahli ilmu astronomi, ilmu ke-Tuhanan, tabib, dan terutama sebagai ahli filsafat.
8.       Ibn al Baytar (1246 M), dokter hewan dan medikal. Beberapa karyanya yang sampai saat ini masih terkenal di wilayah Eropa tentang buku ramuan obat Islam “ Management Of The Drug Store”
9.         Sejumlah penulis, sastarawan, dan ilmuwan termuka, seperti Abu Firas Al Hamadani dan Thayib al Mutanabbi.[13]









KESIMPULAN

1.      Shalahudin Yusuf al-Ayyubi adalah Pendiri Dinasti Ayyubiyah (567 – 648 H / 1171 – 1250 M) yang berdiri di atas sisa-sisa Dinasti Fatimiyah di Mesir yang bercorak Syi’i dan ia inginmengembalikannya ke faham sunni Ahlu Sunnah wal Jama’ah. Shalahudin mengadakan serangan ke Mesir untuk segera mengambil alih Mesir dari kekuasaan Fatimiyah yang jelas tidak akan mampu mempertahankan diri dari serangan Tentara Salib.
2.       Dinasti Ayyubiyah mencapai kemajuan yang gemilang mencakup di berbagai bidang, yaitu: bidang arsitektur dan pendidikan, bidang filsafat dan keilmuan, bidang industri, perdagangan, dan militer.
3.      Salah satu usaha yang paling berharga yang dimiliki oleh Shalahuddin adalah usahanya dan kemampuannya dalam mempertahankan negara pada saat-saat genting (meskipun berjalan sangat singkat), yaitu ketika moral politik sangat tidak baik. Pada saat itu dia dapat menunjukkan teladan yang baik dalam semua perilakunya. Shalahuddin dapat membuat “bentengbenteng persatuan” yang tangguh untuk menghadapi serangan dari berbagai penjuru.
4.       Shalahudin al-Ayyubi sangat memperhatikan pendidikan dan pengetahuan. Sehingga bermunculan tokoh-tokoh ilmuwan dari berbagai disiplin ilmu seperti ilmu Fiqih, kedokteran, filsafat, bahasa, sejarah, dan lain-lain.











[1] Musyrifah Sunanto, Sejarah Islam Klasik; perkembangan Ilmu Pengetahuan Islam (Bogor: Kencana, 2003), 123.
[2] Ibid., 124.
[3] Ahmad Husayn Amin, Seratus Tokoh dalam Sejarah (Bandung: Remaja Rosadakarya, 1995), 132.
[4] Ibid., 135.
[5] Ibid., 136.
[6] Ibid., 137.
[7] Ibid.
[8] Muhammad Ash-Shayim, Shalahuddin al-Ayyubi: Sang pejuang Islam (Jakarta: Gema Insani Press, 2003), 30.
[9] Ibid., 31.
[10] Ibid., 32.
[11] Ibid., 33.
[12] Ibid., 34.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SISTEM DAN KEBIJAKAN PENDIDIKAN DI IRAN

PENANGGUNG JAWAB PENDIDIKAN MENURUT AJARAN ISLAM

PUASA