Rofida~Dinasti Abbasiyah


DINASTI ABBASIYAH
A.    Sejarah Berdirinyya Dinasti Abbasiyah
Kekuasaan Bani Abbasiyah dimulai sejak tergulingnya Bani Umayyah pada tahun 132 H. Pergantian Bani Umayyah oleh Abassiyah dalam kepemimpinan masyarakat Islam lebih dari sekedar penggantian dinasti. Ini merupakan revolusi dalam sejarah Islam, layaknya revolusi Prancis dan Revolusi Rusia dalam sejarah Barat.[1]   
Daulah Abbasiyah didirikan oleh keturunan Abbas paman Rasulullah saw, yaitu: Abdullah al-saffah ibn Muhammad ibn ali ibn Abdullah al-abbas.  Sementara itu, khalifah pertama dari pemerintahan ini adalah Abdullah (as-Saffah) bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas bin Abdul Muthalib. Dinamakan khalifah Abassiyah karena para pendiri dan penguasa merupakan keuturunanAbbas.  Berdirinya pemerintahan ini dinggap sebagai kemenangan pemikiran yang pernah dikumandagkan oleh Bani Hasyim (Alawiyun) setelah wafatnya Rasulullah dengan mengatakaan bahwa yang berhak berkuasa adalah keturunan Rasululloh dan keturunannya.
Pemikiran seperti itu tidak bisa berkembang dan kalah telak di awal-awal masa Islam. Pemikiran Islam yang lurus dan benarlah yang menang pada saat itu. Yakni, pemikiran bahwa kekuasaan itu adalah hak semua kaum muslimin dan siapapun berhak selama dia mampu menyandang amanat.[2]
 Selama dinasti ini berkuasa pola yang diterapkan berbeda-beda sesuai dengan politik, sosial, dan kultur budaya yang terjadi pada masa-masa tersebut. Kekuasaan daulah Abbasiyah dibagi dalam lima periode, yaitu:
1.      Periode I (132 H/ 750 M - 232 H/ 847 M), masa pengaruh Persia pertama.
Pada masa ini daulah Abbaiyah mencapai puncak keemasan. Para khalifah pada masa periode I dikenal sebagai tokoh yang kuat, pusat kekuasaan politik dan agama sekaligus. Kemakmuran masyarakat pada saat ini mencapai tingkat yang tinggi. Popularitas daulah Abbasiyah mencapai puncaknya pada masa khalifah Harun al-Rasyid (786 M-809 M) dan putranya al-Ma’mun (813 M-833 M). Kekayaan yang dimiliki khalifah Harun al-Rasyid dan putranya al-Ma’mun digunakan untuk kepentingan sosial seperti: lembaga pendidikan, kesehatan, rumah sakit, pendidikan ilmu pengetahuan, dan kebudayaan serta kesusasteraan berada pada zaman keemasan. Al-Ma’mun khalifah yang cinta kepada ilmu, dan banyak mendirikan sekolah.
2.      Periode II (232 H/847 M-334 H/945 M), masa pengaruh Turki pertama. 
Pada masa ini orang-orang militer Turki memegang kendali atas khalifah-khalifah yamg lemah. Merekalah yang memilih khalifah dan merekalah yang memecatnya. Mereka membunuh para khalifah mereka sendiri. Adalah al-Mu’tasim yang mendatangkan orang-orang Turki karena tentara sudah di tangan mereka.
Al-Mu’tasim mendatangkan mereka dari Negara-negara yang berada di Asia Tengah. Awalnya dia memberi wewenang untuk menjaga keamanan dan keselamatan individu-individu. Al-Mu’tasim mengangkat mereka untuk dijadikan pengawal khusus untuknnya. Kemudian dia dimasukkan ke dalam jajaran tentara. Dengan keberanian dan kepahlawanan yang dia miliki, mereka cepat naik pamornya di mata khalifah. Hingga akhirnya mereka sampai kepuncak dan masuk jajaran elit penguasa terutama dalam medan perang.
Kejahatan mereka mulai tampak pada masa pemerintahan al-Mu’tasim. Sehingga, mereka melakukan tindakan-tindakan yang di luar batas kepada banyak orang di Baghdad. Maka, muncullah reaksi balik dari masyarakat atas sikap mereka tersebut. Banyak laporan, pengaduan dan keluhan. Oleh sebab itulah, al-Mu’tashim membangun satu kota khusus untuk untuk mereka yang bernama Samura’. Al-mu’tashim dan pasukannya pindah ketempat itu.
Dengan cepat mereka menduduki kekuasaan secara penuh, sampai-sampai mereka berhasil membunuh al-Mutawakil dan kekuasaan mereka sempurna pada masa pemerintahan al-Mutashir. Dengan demikian, mereka menentukan siapa saja untuk menjadi khalifah  dan mencopot mereka yang tidak mereka sukai. Akibatnya, para khalifah mengalami sesak nafas di bawah cengkraman mereka. Karena mereka sering membunuh, memenjarakan, menyiksa, dan mencopot kekuasaan semau mereka.
Pada masa pemerintahan al-Mu’tamid dan al-Mu’tadhid (256-289H), khalifah Islam mengalami masa kebangkitan dan mampu mengembalikkan kekuatannya kembali. Namun tak lama kemudian kemunduran muncul kembali.[3]
3.      Periode III (334 H/945 M-447 H/1055 M), pada masa kekuasaan Dinasti Buwaihi, pengaruh Persia kedua.
Masa ini adalah masa pengaruh dan dominasi orang-orang Buwayhiyin (Buwaihidis) terhadap para khalifah Bani Abbasiyah. Mereka adalah orang-orang Syiah yang berasal dari dalam. Mereka menaruh dendam dan kebencian kepada Islam. Dari mereka muncul berbagai perbuatan yang bertentangan dengan Islam.[4]
4.      Periode IV (447 H/1055 M-590 H/1194), masa Bani Saljuk, pengaruh Turki kedua.
Bani Saljuk datang untuk membebaskan Daulah Abassiyah dari kekuatan Bani Buwaihi di Baghdad (Iraq). Pada masa ini ilmu pengetahuan tetap berkembang dengan baik. Khalifah banyak membangun madrasah sebagai pusat studi ilmu pengetahuan.
5.      Periode V (590 H/1104 M-656 H/1250), masa kebebasan dari pengaruh Dinasti lain.
Sempitnya wilayah kekuasaan menandakan bahwa stabilitas politiknya lemah, sehingga mengundang bangsa lain untuk menakhlukkannya. Pada periode ini, tepatnya tahun 1258 M, tentara Mongol dan Tartar datang menyerang dan menghancurkan Baghdad hingga akhirnya berakhirlah masa kekhalifahan Bani Abassiyah. [5]   

B.     Khalifah pada Masa Dinasti Abasiyah
Pada periode pertama pemerintahan, Bani Abassiyah mengalami masa keemasan. Secara politis para khalifah betul-betul tokoh yang kuat, sekaligus sebagai pusat kekuasaan, politik, dan agama. Pemerintahan Bani Abassiyah mencapai masa keemasan di bawah pimpinan Al-Mahdi, Al-Hadi, Harun ar-Rasyid, Al-Makmun, Al-Muktasim, Al-Wasiq, dan Al-Mutawakkil.
Berikut informasi mengenai khalifah Bani Abassiyah:
a.       Al-Mahdi (775-785 M), ketika beliau menjadi khalifah, Negara telah dalam keadaan stabil dan mantap, dapat mengendalikan musuh-musuh dan kondisi keuanganpun telah terjamin. Al-Mahdi member perintah untuk membangun bangunan besar di sepanjang jalan menuju Mekkah sebagai tempat persinggahan musafir.
b.      Al-Hadi (775-786 M), beliau adalah khalifah yang tegas, walaupun gemar bersenda gurau. Ia berhati lembut, berjiwa bersih, berakhlak baik, baik tutur katanya, senantiasa berwajah manis, dan jarang menyakiti orang.
c.       Harun ar-Rasyid (785-809 M), pada zaman pemerintahannya, baitul mal menanggung narapidana dengan memberikan makanan yang cukup serta pakaian. Khalifah Harun ar-Rasyid mampu membawa negeri yang dipimpinnya ke masa kejayaan, kemakmuran dan kesejahteraan, bahkan dikatakan sebagai jaman keemasan. Usaha-usaha yang ia lakukan adalah:
1)      Mengembangkan bidang ilmu pengetahuan dan seni.
2)      Membangun gedung-gedung dan sarana social.
3)      Memajukan bidang politik pertahanan dan perluasan wilayah.
d.      Al-Makmun (813-833 M), usaha yang ia lakukan selama menjadi khalifah yaitu: menghentikan berbagai gerakan pemberontakan, penertiban adminitrasi Negara, pembentukan badan negara, pembentukan majelis munazarah, dan pembentukan baitul hikmah sebagai perpustakaan (daur al-kutub), yang di dalamnya turut aktif para guru dan ilmuwan.
e.       Al-Mukitasim (833-842 M), ia mendirikan masjid, istana, dan sekolah-sekolah.
f.       Al-Wasiq (842-847 M), ia adalah penguasa yang sangat cakap, pemerintahannya mantap, dan penuh perhatian. Ia banyak memberikan uang dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Pada masa ini industri maju dan perdagangan lancar.
g.      Al-Mutawakil (847-861 M), ia mengandalkan negarawan Turki dan pasukannya untuk meredam pemberontakan dan memimpin pasukan menghadapi pasukan asing. [6]
C.    Sistem Politik pada Masa Dinasti Abassiyah
Corak politik pemerintahan  Dinasti Abbasiyah menurut Marshal G.S. Hodgson adalah absolutisme, yakni pemerintahan yang mutlak di tangan khalifah dan bersifat tidak terbatas.[7] Yaitu bentuk pemerintahan dengan semua kekuasaan terletak ditangan penguasa.
Kemantaban dalam bidang politik memungkinkan perekonomian berkembang dengan pesat, pembangunan disegala bidang, baik pertahanan, industri dan perdagangan yang dengan itu meningkat dan melimpahnya dana yang luar biasa sehingga menunjang pengembangan ilmu pengetahuan. Bahan pengetahuan, baik tentang agama atau bukan, telah memungkinkan untuk dilakukan penulisan secara lebih sistematis. Diskusi dan perdebatan antar umat Islam dan perdebatan antara umat Islam dan non Islam juga ikut mendorong kesungguhan para ulama untuk menekuni bidang ilmu.
Dalam masa Daulah Abbasiyah ini ada masa sepuluh khalifah pertama yang merupakan masa kejayaan (keemasan) peradaban Islam, dimana Bagdad mengalami kemajuan ilmu pengetahuan yang pesat. Secara politis, para khalifah betul-betul merupakan khalifah yang kuat dan yang merupakan pusat kekuasaan politik dan agama sekaligus. Disisi lain, kemakmuran masyarakat mencapai tingkat tertinggi. Periode ini juga berhasil menyiapkan landasan bagi perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan dalam Islam. Namun setelah periode ini berakhir, pemerintah Bani Abbas mulai menurun dalam bidang plitik, meskipun filsafat dan ilmu pengetahuan telah berkembang.[8]
D.    Perkembangan dan Pertumbuhan Pendidikan Islam Masa Dinasti Abassiyah
Gerakan membangun ilmu pengetahuan secara besar-besaran dirintis oleh khalifah Ja’far Al-Mansur. Setelah ia mendirikan kota Baghdad, (144 H/762 M) dan menjadiknnya sebagai ibukota negara. Ia banyak menarik ulama’ untuk datang dan tinggal di Baghdad. Ia memberikan rangsangan  dalam pembukuan ilmu agama, seperti fiqih, tafsir, tauhid, hadits ataupun ilmu lain seperti ilmu bahasa dan sejarah. Akan tetapi yang lebih mendapat perhatian adalah penerjemahan buku ilmu pengetahuan yang berasal dari luar.
Pada masa pemerintahan Harun al-Rasyid (786-809 M) dilakukan sebuah gerakan penerjemahan berbagai buku Yunani, dengan menggaji berbagai penerjemah dari golongan Kristen dan dari gologan lainnya yang ahli. Ia juga banyak mendrikan sekolah, yang salah satu karya besarnnya adalah pembangunan baitul hikmah, sebagai pusat pnerjemahan yang berfungsi sebagai perguruan tinggi dengan perpustakaan terbesar. Perpustakaan pada masa itu lebih menerapkan sebuah universitas, karena disamping terdapat kitab-kitab, disana orang-orang dapat membaca, menulis dan berdiskusi.
Harun Al-Rasyid juga menerapkan kekayaan yang banyak untuk dimanfaatkan sebagai keperluan sosial. Rumah sakit, lembga pendidikan dokter, dan farmasi didirikan. Disamping itu pemandian-pemandian umum juga dibangun. Kesejahteraan, sosial, kesehatan, pendidikn, ilmu, pengetahuan, dan kebudayaan serta kesusasteraan  berada pada zaman keemasannya. Pada masa inilah negara Islam menerapkan dirinnya sebagai Negara terkuat yang tak tertandingi.
Terjadinnya perkembangan lembaga pendidikan pada masa Harun Al-Rasyid mencerminkan terjadinnya perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan. Pada masa Abbasiyah pertama ini juga lahir para madzhab imam yang empat. Pencapaian kemajuan dunia Islam pada bidang ilmu pengetahuan tersebut tidak terlepas dari adannya sikap terbuka dari pemerintahan Islam pada masa itu. Seperti Yunani, Persia, India dan  yang lainnya.
Proses penerjemahan di zaman Abbasiyah didorong oleh motif sosial, politik dan intelektual. Ini berarti bahwa para pihak baik dari unsur masyarakat, elit penguasa, pengusaha dan cendekiawan terlibat dalam proses ini, sehingga dampaknya secara kultural sangat besar. Gerakan penerjemahan pada zaman itu kemudian diikuti oleh suatu periode kreatifitas besar, karena generasi para ilmuwan dan ahli pikir muslim yang tepelajar itu kemudian membangun dengan ilmu pengetahuan yang diperolehnya untuk menkontribusikannya dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan.
Periode kekhaalifahan dalam sejarah Islam merupakan periode pengembangan dibidang ilmu, pengetahuan dan kebudayaan, dimana pada zaman itu telah melahirkan tokoh-tokoh besar di bidang filsafat dan ilmu pengetahuan seperti, Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, Al-Farabi.
Pada masa-masa permulaan perkembangan kekuasaan, Islam telah memberikan kontribusi kepada dunia berupa tiga jenis alat penting, yaitu paper (kertas), compass (kompas), dan gunpowder (mesiu). Penemuan alat cetak movable types di tiongkok pada penghujung abad ke-8 M.
Pencapaian prestasi yang gemilang sebagai implikasi dan gerakan terjemahan yang dilakukan pada zaman daulah Abbasiyah sangat jelas terlihat pada lahirnya para ilmuwan muslim yang terkenal dan berkelibar internasional seperti: al-Buruni (fisika, kedokteran), Jabbir bin Hayyan (geber), pada ilmu kimia, al-Khawarizmi (algorism) pada ilmu matematika, al-Kindi (filsafat), al-Farazi, al-Farghani, al-Bitruji (astronomi), Abu Ali Al-hasan bin Haythami pada bidang teknik dan optik, Ibn Sina (avicenna) yang di kenal sebagai bapak ilmu kedokteran modern, Ibn Rusyd (avveroes) pada bidang filsafat, Ibn Khaldun (sejarah, sosiologi). Mereka telah meletakan dasar pada berbagai bidang ilmu pengetahuan.[9]  

E.     Lembaga Pendidikan dan Perpustakaan Islam Masa Dinasti Abassiyah
Lembaga pendidikan bernama Kuttab yang sebelumnya hanya mengajarkan pelajaran membaca dan menulis, kemudian mengajarkan ilmu-ilmu agama, sejak abad ke-8 M mulai mengajarkan ilmu pengetahuan. Sistem pembelajaran yang digunakan bernama halaqah. Selain itu masjid juga digunakan untuk sarana menuntut ilmu. Tempat yang juga menjadi pusat kegiatan keilmuan adalah observatium dan rumah sakit. [10]
Karya-karya para ilmuwan muslim pada masa Dinasti Abassiyah dihimpun dalam perpustakaan-perpustakaan yang tersebar di berbagai ibukota. Mehdi Nakosteen mencatat ada 36 perpustakaan di Baghdad sebelum diluluhlantahkan oleh pasukan Hulagu dari Mongol, diantaranya:
a.       Perpustakaan Bayt Al-Hikmah yang didirikan oleh al-Ma’mun.
b.      Perpustakaan Umar al-Waqidi yang diperkirakan memiliki 320 ekor unta beban buku-buku.
c.       Perpustakaan Dar al-Ilm.
d.      Perpustakaan Nizamiyah.
e.       Perpustakaan Madrasah Mustansiriyah.
f.       Perpustakaan al-Baiqani.
g.      Perpustakaan Muhammad Ibn al-Husain.
h.      Perpustakaan Ibn Kamil.[11]

F.     Sebab-sebab Kemunduran Dinasti Abassiyah
a.       Tidak adanya konstitusi yang pasti tentang system pergantian khalifah.
b.      Dominasi orang-orang non-Arab, baik Turki dan Persia.
c.       Moral dan wibawa seorang khalifah lemah.
d.      Adanya serangan dari tentara salib dan Mongol yang dipimpin oleh Jengis Khan dan Hulagu Khan.  [12]


KESIMPULAN
Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa:
1.      Pemerintahan Dinasti  Abbasiyah dimulai sejak tergulingnya Bani Umayyah pada tahun 132 H. Dinasti Abbasiyah didirikan oleh keturunan Abbas paman Rasulullah saw, yaitu: Abdullah al-saffah ibn Muhammad ibn ali ibn Abdullah al-abbas. Dinamakan khalifah Abassiyah karena para pendiri dan penguasa merupakan keuturunanAbbas.  Kekuasaan berlangsung dari tahun 750-1258 M.
2.      Pemerintahan Bani Abassiyah mencapai masa keemasan di bawah pimpinan khalifah Al-Mahdi, Al-Hadi, Harun ar-Rasyid, Al-Makmun, Al-Muktasim, Al-Wasiq, dan Al-Mutawakkil.
3.      Corak politik pemerintahan  pada masa Dinasti Abbasiyah menurut Marshal G.S. Hodgson adalah absolutisme, yakni pemerintahan yang mutlak di tangan khalifah dan bersifat tidak terbatas.  Yaitu bentuk pemerintahan dengan semua kekuasaan terletak ditangan penguasa.
4.      Perkembangan dan pertumbuhan pendidikan Islam pada masa Dinasti Abassiyah terdapat perkembangan lembaga pendidikan  pada masa Harun Al-Rasyid dan juga terdapat gerakan penerjemahan berbagai buku Yunani, dengan menggaji berbagai penerjemah dari golongan Kristen dan dari gologan lainnya yang ahli.
5.      Lembaga Pendidikan yang digunakan selain masjid adalah kuttab dan Perpustakaan Islam yang dibangun pada Masa Dinasti Abassiyah adalah Perpustakaan Bayt Al-Hikmah yang didirikan oleh al-Ma’mun, Perpustakaan Umar al-Waqidi yang diperkirakan memiliki 320 ekor unta beban buku-buku, Perpustakaan Dar al-Ilm, Perpustakaan Nizamiyah, dan lain sebagainya.
6.      Adapun sebab-sebab kemunduran Dinasti Abassiyah diantaranya adalah karena tidak adanya konstitusi yang pasti tentang sistem pergantian khalifah, dominasi orang-orang non-Arab, baik Turki dan Persia, moral dan wibawa seorang khalifah lemah, dan adanya serangan dari tentara salib dan Mongol yang dipimpin oleh Jengis Khan dan Hulagu Khan.

DAFTAR PUSTAKA

Aizid, Rizem. Sejarah Peradaban Islam Terlengkap . Yogyakarta: DIVA Press. 2015.
Al-Usairy, Ahmad.  Sejarah Islam sejak Zaman Nabi Adam hingga Abab XX. Jakarta: Akbar Media Eka Sarana. 2003.
Baharuddin, et.al. Dikotomi pendidikan islam. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. 2011.
Didin Saefuddin, Didin. Zaman Keemasan Islam Rekontruksi Sejarah Imperium Dinasti Abbasiyah. Jakarta: PT. Grasindo. 2002.
Eva, Fikriyah. et.al. Sejarah Kebudayaan Islam. Sukoharjo: CV indunata. tanpa tahun.


       [1] Rizem Aizid, Sejarah Peradaban Islam Terlengkap (Yogyakarta: DIVA Press, 2015), 271.  
       [2] Ahmad al-Usairy, Sejarah Islam sejak Zaman Nabi Adam hingga Abab XX (Jakarta: Akbar Media Eka Sarana, 2003),  215.
      [3] Ibid, 248-250.
      [4] Ibid, 252.
       [5] Fikriyah Eva, et,al., Sejarah Kebudayaan Islam (Sukoharjo: CV indunata, tanpa tahun), 14.
       [6] Rizem Aizid, Sejarah Peradaban Islam Terlengkap, 274-278.
       [7] Didin Saefuddin, Zaman Keemasan Islam Rekontruksi Sejarah Imperium Dinasti Abbasiyah (Jakarta: PT. Grasindo, 2002), 552.  
      [8] Baharuddin, et,al., Dikotomi pendidikan islam  (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2011), 153-154.
        [9] Ibid, 155-157.
       [10] Didin Saefuddin, Zaman Keemasan Islam, 193.
       [11] Ibid.  
       [12] Fikriyah Eva, et.al., Sejarah Kebudayaan Islam, 17

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SISTEM DAN KEBIJAKAN PENDIDIKAN DI IRAN

PENANGGUNG JAWAB PENDIDIKAN MENURUT AJARAN ISLAM

PUASA