SISTEM DAN KEBIJAKAN PENDIDIKAN DI IRAN
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah
“Perbandingan Pendidikan”

Disusun oleh
Kelompok/Kelas : 9/PAI. B
Semester : 6
1.
Rofida Faizatul Maghfiroh (210315055)
2.
Rosyida Amalia Forjannah (210315049)
3.
Ma’rifatul Uma (210315039)
Dosen Pengampu:
Zainur
Rofik
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
(IAIN) PONOROGO
MEI 2018
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar belakang
Iran adalah
sebuah Negara bergunung-gunung daratan tinggi dengan luas 1.648.180 km persegi yang terbentang dari laut Kaspia dan Uni Soviet di utara sampai ke teluk Persia di selatan dan dari Turki dan Irak di barat ke Afganistan dan Pakistan Timur.
Konsisten dalam mengembangkan sumber daya manusia,
terutama disektor pendidikan. Perhatian besar pemerintah Iran terhadap
pendidikan generasi mudanya juga telah menciptakan generasi muda yang
berkualitas dalam bidang teknologi.
Oleh karena itu
perlu kita kupas dan kita ketauhi seluk beluk sistem kebijakan pendidikan di
Iran yang diadopsi. Untuk dijadikan inspirasi negara kita Indonesia menjadi
lebih baik dan lebih bermutu dalam bidang pendidikan terutama.
B.
Rumusan masalah
1.
Bagaimana
sejarah pendidikan di Iran?
2.
Bagaimana
sistem kebijakan pendidikan di Iran?
3.
Bagaimana
perbandingan sistem kebijakan pendidikan di Iran dengan di Indonesia?
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Sejarah Pendidikan di Iran
Republik Islam Iran merupakan sebuah Negara
yang terletak di Timur Tengah belahan utara bumi, antara 250 dan 400
garis lintang serta 440 derajat dan 630 derajat Garis Bujur
Greenwich. Negara ini meliputi area seluas 1.648.180 km persegi dan merupakan Negara terluas ke 16
didunia. Letak Negara yang strategis membuat Iran memiliki tiga macam keadaan
iklim dapat dilihat di berbagei tempat, yakni dilaut Kaspia yang beriklim lembab dan daerah pegunungan yang tengah
gersang, serta daerah padang pasir yang kering.[1]
Secara politis Iran mengalami transisi
mendasar, baik akibat revolusi maupun perang. Transisi pertama adalah akibat
revolusi, yakni perubahan konstelasipolitik dari bentuk Negara otokrasi menjadi
republik. Bentuk Negara otokrasi hendak dikembangkan oleh Shahinshah Mohammad
Reza Pahleve Aryamehr. [2]
Sejak itu Reza Pahlevi berniat
membangkitkan model kerajaan Cyrus II, atau paling tidak hendak menata kembali
tradisi dan peninggalan Persipolis. Pada tahun 1963, ia memberlakukan White
Revolution sebuah program untuk memperbaikikondisi kehidupan penduduk, yang
menurutnya telah banyak mengalami ketertinggalan, kebodohan, penyakit,
kemiskinan, dan lain-lain. Dalam rangka menghilangkan kebodohan, Reza Pahlevi memerintahkan
berdirinya Badan Pemberantasan Buta Huruf (Literacy Corps) dan
sekolah-sekolah yang mampu menampung semua anak, baik laki-laki maupun
perempuan. Dalam upaya menghilangkan kemiskinan ia
mendirikan Badan Perluasan dan Pengembangan (Extention And Developmen Corps)
untuk mengatasi masalah kemiskinan pedesaan.[3]
Tim teknis yang terdiri atas para insinyur, ahli pertanian,
arsitek, dokter hewan, ahli pipa air da n gas, spesialis irigasi, ahli ekonomi,
sosiologi, dan lainnya dibentuk untuk mengembangkan lebih lanjut program Mentri
Pertanian, Perusahaan, dan Ekonomi.
Reza Pahlevi mendirikan Bank Nasional dan
berbagai sekolah negeri di seluruh negeri, untuk kemudian mencanangkan program
wajib belajar. Untiversitas Teheren didirikan para perempuan pun dapat
mendaftar kuliah disana meskipun jilbab sebelumnya telah dilarang. Pabrik dan
jalur kereta api antar kota, ribuan mil jalan darat, serta instalasi pelabuhan modern diwilayah Teluk
Persia dan Teluk Kaspia pun dibangun. Rute perjalanan pun menjadi aman,
jaringan komunikasi dimodernisasi, dinas kepolisian juga dibentuk.[4]
Sebesar 98% penduduk Iran menganut agama
Islam, 91% diantaranya dengan Mazhab Syiah Imamiyah, 0,8% penganut Kristen,
0,2% Yahudi, 0,1% Zaratustra, dan 0,1% beragama lain. Agama Negara Iran adalah Islam Mazhab Jakfari Dua Belas
Imam (Ja’fariyah Itsna Asy’ariyah). Adapun mazhab lain seperti Hanafi, Syafi’i,
Maliki, Hambali, dan Zaidi dihormati sepenuhnya[5].
B.
Sistem Kebijakan Pendidikan di Iran
1.
Tujuan Pendidikan di Iran
Pada 1957, Kementerian Pendidikan Republik Islam Iran mengumumkan bahwa tujuan pendidikan sebagai berikut:
1.
Pengembangan pisik
2.
Pengembangan sosial.
3.
Pengembangan intelektual
4.
Pengembangan moral.
Setelah Revolusi Islam Iran pada 1979, sistem pendidikan Iran mengalami perubahan yang sangat mendasar dan semua upaya pendidikan harus disesuaikan dengan prinsip-prinsip Islam. Prioritas harus diletakkan pada terjaminnya usaha membesarkan anak-anak dan generasi muda sehingga menjadi muslim yang konsekuen dan punya komitmen yang tinggi terhadap agama Islam. Upaya pendidikan diarahkan pada penggunaan Alquran, tradisi Islam, dan konstitusi republik Islam Iran sebagai dasar dalam merumuskan tujuan dan sasaran pendidikan.[7]
Tujuan dan sasaran pendidikan dirumuskan dari berbagai sumber, termasuk konstitusi dan laporan Dewan Tertinggi perubahan dasar pendidikan yang ditunjuk oleh Dewan tertinggi Revolusi Kebudayaan Iran. Sumber-sumber ini menggariskan bahwa pembangunan nasional adalah sasaran utama pendidikan. [8]
Pendidikan harus dikembangkan untuk meningkatkan produktivitas, mewujudkan integrasi sosial, moral, dan spiritual dengan penekanan utama untuk memperkuat dan mendorong keimanan terhadap Islam. Pendidikan juga harus menekankan pentingnya peningkatan kualitas tenaga kerja dalam semua jenis dan level perekonomian, dan dengan demikian, pendidikan harus dipandang sebagai investasi untuk masa depan. [9]
Masalah utama yang selama ini dan sampai sekarang dihadapi pendidikan Iran adalah bagaimana merekonsiliasikan antara nilai-nilai tradisional dan pengembangan masyarakat berdasarkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Setelah revolusi 1979, Republik Islam Iran menitikberatkan perhatian pada pendidikan moral individu dan masyarakat. Pengembangan bagi sekolah-sekolah harus didasarkan pada prinsip-prinsip ajaran Islam. Dengan tekanan utama pada dorongan dan penguatan keimanan. Yang tidak kalah penting adalah bagaimana penghubungkan pendidikan dengan pekerjaan. Para generasi muda perlu dibekali dengan teknik berdasarkan ilmu pengetahuan ilmiah serta ketrampilan kerja agar mereka sadar akan perlunya produksi industri dan pertanian.[10]
2.
Orientasi Pendidikan di Iran
Undang-Undng Dasar Republik Islam Iran memberi penekanan pada
kewajiban pendidikan dan pengajaran. Itulah sebabnya pemerintah menyediakan sarana cuma-cuma bagi para pemuda
dan anak-anak sampai tingkat sekolah menengah pertama. Kementrian pendidikan
dan pengajaran bertugas mengurusi anak-anak agar mendapat pendidikan Dasar
hingga tamat SMP.
1.
Orientasi.
Disini proses pendidikan berlangsung selama 3 tahun. Pada tahap ini siswa siswi
mempelajari berbagai ilmu pengetahuan dan persiapan untuk memilih bidang
pengetahun sesuai dengan minatnya.
2.
Sekolah
lanjutan atas atau Sekolah Sains Teoritis. Sekolah lanjutan atas hanya ditempuh
oleh siswa-siswi yang lulus ujian sekolah menengah pertama. Sekolah ini
merupakan tahap akhir sekolah. Sekolah menengah atas terbagi kedalam dua
bagian, yaitu teori dan praktik.
3.
Pendidikan
tinggi, yang ditempuh setelah menyelasaikan sekolah menengah atas dan lulus
seleksi. Ada beberapa Universitas di Iran, diantaranya adalah Universitas
Teheran. Universitas ini dilengkapi dengan berbagai macam Laboratorium yang
cukup memadai untuk sebuah kampus modern. Selanjutnya ada Universitas Allamah
Thabathaba’i, Universitas manajemen Imam Shodiq, Universitas Syahid Behesti, serta
Universitas Sains dan Teknologi Iran, dan masih banyak lainnya.[11]
3.
Kebijakan Pendidikan di Bidang Agama
Konstitusi Republik Islam Iran menggariskan kerangka dasar
pengembangan pendidikan Iran. Adapun sistem pendidikannya dapat diuraikan
sebagai berikut:
1.
Sekolah
Persiapan (Taman Kanak-kanak), dimulai pada usia 5 tahun. Di Teheran dan kota
besar lainnya terdapat banyak TK, tetapi pendidikan pra sekolah ini tidak
secara resmi menjadi bagian dari sistem pendidikan Nasionalnya.
2.
Sekolah
Dasar, dimulai pada anak usia 7 tahun yang merupakan tahap awal proses
pendidikan. Pendidikan SD ini ditempuh selama 6 tahun.
Namun, tidak
semua SD Iran terdiri atas 6 kelas. Dibanyak pedesaan, sekolah ini hanya
memiliki 4 kelas. Sebagian besar sekolah yang terletak jauh di pelosok memiliki
sekolah dengan satu ruang dan satu guru. Meskipun begitu, seorang murit tetap
bisa mengikuti pendidikan SD selama 6 tahun jika mampu menjangkaunya.
Sekolah
lanjutan pertama atau sekolah Pasal 3 menyatakan bahwa pemerintah bertanggung
jawab menyediakan pendidikan yang gratis sampai pendidikan tingkat menengah
bagi semua penduduk Iran. Hal yang sama ditegaskan lagi pada pasal 30 bahwa
pemerintah Iran berkwajiban memberikan pendidikan yang gratis dan selanjutnya
memfasilitasi akses kependidikan tinggi.
Tujuan dan
sasaran pendidikan dirumuskan dalam berbagai sumber termasuk konstitusi dan
laporan dewan tertinggi perubahan dasar pendidikan yang ditunjuk oleh dewan
tertinggi refolusi kebudayaan Iran. Sumber-sumber ini menggariskan bahwa
pembangunan Nasional adalah sasaran utama pendidikan. Pendidikan harus
dikembangkan untuk meningkatkan produktifitas, mewujudkan integritas sosial,
moral dan spiritual dengan penekanan utama pada memperkuat dan mendorong
keimanan terhadap Islam. Pendidikan juga harus menekankan pentingnya
peningkatan kwalitas kerja dalam semua jenis dan level perekonomian, dan dengan
demikian, pendidikan harus dipandang sebagai investasi untuk mesa depan.[12]
Pendidikan di
Iran didanai oleh pemerintah. Walaupun terdapat sekolah-sekolah swasta sampai
akhir tahun 1970-an, pemerintah memberikan subsidi-subsidi guru dan staf.
Mengikuti peningkatan harga minyak dan pendapatan negara dalam tahun-tahun
sesudah 1973. Dari tahun 1976-1977 belanja atau pengeluaranuntuk pendidikan
dasar naik 34% kemudian pada tahun 1977-1878 naik 38%. Sedangkan untuk
pendidikan menengah 52% dan 37% pada tahun yang sama. Meskipun demikian, sistem
pendidikan di Iran masih belum bisa menyediakan pendidikan bagi setiap orang.
Dalam tahun
anggaran 1990-an dana untuk pendidikan dasar dan menengah tersedia kira- kira 1
triliun US Dolar dan jumlah ini turundari 3,8% pada tahun 1982. Pemerintah
menyediakan dana untuk anggaran pendidikan sebesar 90% pendidikan yang
berstatus negeri pada dasarnya gratis, dan sumbangan-sumbangan dari orang tua
wali murid dijadikan sebagai biaya tambahan pemeliharaan sekolah adapun untuk
sekolah swasta anggaran yang dikeluarkan juga tinggi yaitu 20% dari anggaran
pemerintah.[13]
Di Iran
sendiri, pemerintah pusat lewat Kementerian Pendidikan, bertanggung
jawab untuk pembiayaan dan mengontrol administrasi pendidikan dasar dan
menengah. Di tingkat lokal, pendidikan diawasi melalui pemerintah provinsi dan
kantor kecamatan. Selain itu, Departemen Pendidikan mengawasi ujian nasional,
memonitor standar, menyelenggarakan pelatihan guru, mengembangkan kurikulum
dan materi pendidikan, mendanai pembangunan dan pemeliharaan sekolah.
Sedangkan Dewan Tinggi Pendidikan adalah badan legislatif yang menyetujui
semua kebijakan dan peraturan yang berhubungan dengan pendidikan. Sekolah
swasta (non-profit) sebagian didanai oleh pemerintah dan beroperasi dibawah
pengawasan Departemen Pendidikan.
Pendidikan
wajib belajar berlangsung sampai kelas 8 dan dilaksanakan secara
gratis untuk masyarakat. Tingkatan pada pendidikan dasar dibagi menjadi lima tahun
pada tingkat pertama dan tiga tahun untuk tingkat lanjutan.
Pada tingkat
dasar, siswa melakukan proses pembelajaran sebanyak 24 jam per minggu. Kurikulum
mencakup studi Islam, membaca sejarah Persia, menulis dan pemahami Ilmu
Pengetahuan Sosial, Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam.
Sedangkan pada tingkat
bimbingan, siswa melakukan 28-31 jam pembelajaran per minggu. Ada kurikulum
nasional yang seragam untuk semua sekolah, dan mata pelajaran yang dibahas
adalah sama seperti pada tingkat dasar. Tingkat bimbingan mempersiapkan siswa untuk
naik ke jenjang pendidikan selanjutnya.
Para siswa akan menghadapi ujian akhir pada tingkat kelas 5 dan 8,
apabila siswa gagal
dalam ujian, harus mengulang dan dapat mengambil ujian lagi tahun berikutnya.
Jika siswa
gagal untuk kedua kalinya, mereka harus mengikuti pelatihan kejuruan
dasar. Pemeriksaan yang diadakan pada bulan Juni di akhir setiap tahun akademik,
dilakukan oleh otoritas pendidikan provinsi.[14]
4.
Biaya Pendidikan
Pendidikan di Iran didanai oleh pemerintah. Walaupun terdapat
sekolah-sekolah swasta, pemerintah tetap memberikan subsidi guru dan staf.
Walau sumbangan dari orangtua siswa juga ada untuk keperluan pemeliharaan
sekolah. Biaya sekolah swasta tidak terlalu tinggi.
Konstitusi Republik Islam Iran menggariskan kerangka dasar
pengembangan pendidikan.dalam Undang-Undang negra Iran pada Pasal 3 menyatakan
bahwa pemerintah bertanggungjawab menyediakan pendidikan yang gratis sampai
pendidikan tingkat menengah bagi semua penduduk Iran. Hal yang sama ditegaskan
lagi pada Pasal 30, yakni pemerintah Iran berkewajiban memberikan pendidikan
yang gratis dan selanjutnya memfasilitasi akses pendidikan tinggi.[15]
C.
Perbandingan Sistem Kebijakan Pendidikan di Iran dengan di Indonesia
1.
Jenjang
pendidikan formal di Iran:
a.
Pendidikan
Prasekolah
Pendidikan
praseakolah umumnya dilaksanakan oleh lembaga-lembaga swasta. Tujuan umum
pendidikan ini adalah untuk mempersiapkan anak-anak memasuki pendidikan formal.
Kegiatan-kegiatan pada prasekolah ini antara lain bermain bersama, membacakan
cerita-cerita, bernyanyi, permainan aktivitas dan pekerjaan tangan yang
perlengkapannya sangat sederhana seperti kertas, papan tulis dan pena.
b.
Pendidikan
Dasar
Pendidikan
dasar dimulai pada anak berumur 6 tahun
dan berlangsung lima tahun dan kemudian diikuti dengan bimbingan atau
orientasi selama 3 tahun. Pendidikan orientasi dimaksudkan bagi anak-anak yang
bercita-cita untuk melanjutkan pendidikannya di masa depan atau mencari
pekerjaan.
c.
Pendidikan
Menengah
Pendidikan
menengah diselenggarakan selama empat tahun dan dibagi dalam dua jalur yang
telah lama dan lebih bsar adalah jalur akademik yang jterbagi dalam dua bidang
yaitu sains dan humaniora. Jalur kedua yaitu jalur pendidikan teknik dan
kejuruan yang kurang berkembang dan terdiri dari dua bidang yaitu, industri dan
pertanian.
d.
Pendidikan
Tinggi
Pendidikan
tinggi terbagi dalam sekolah tinggi pendidikan guru guru yang tidak menuntut
tamatan pendidikan menengah sebagai
persyaratan masuk dan berbagai sekolah tinggi lain dan universitas.
2.
Jenjang
pendidikan formal di Indonesia:
Berdasarkan Undang-Undang Pendidikan Nasional tahun 2003. Jalur,
jenjang, dan jenis pendidikan dapat diwujudkan dalam bentuk satuan pendidikan
yang diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah. Adapun jenjang pendidikan tersebut
antara lain:
a.
Pendidikan
Anak Usia Dini
Pendidikan
anak usia duni diselenggarakan sebelum jenjang
pendidikan dasar. Pada PAUD ini dapat diselenggarakan melalui jalur
formal, non formal atau informal. Pada jalur formal berbentuk TK (Taman
Kanak-kanak), RABATA (Raudhatul Athfal, Bustanul Athfal, Tarbiyatul Athfal).
Pada jalur nonformal berbentuk KB
(Kelompok bermain), Taman Penitipan Anak (TPA).
b.
Pendidikan
Dasar
Pendidikan
dasar merupakan jenjang pendidikan yang melandasi jenjang pendidikan menengah. Pendidikan dasar
berbentuk Sekolah Dasar (SD) atau Madrasah Ibtidayah(MI) dan Sekolah Menengah
Pertama (SMP) atau Madrasah Tsanawiyah (MTs).
c.
Pendidikan
Menengah
Pendidikan
menengah merupakan lanjutan pendidikan dasar. Pendidikan menengah terdiri tas
pendidikan menengah umum dan pendidikan menengah kejuruan. Pendidikan menengah
berbentuk Sekolah Menengah Atas (SMA),
Madrasah Aliyah (MA), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), dan Madrasah Aliyah
Kejuruan (MAK).
d.
Pendidikan
Tinggi
Pendidikan
tinggi mencakup program pendidikan diploma, sarjana, magister, spesialis dan
doktor yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi.
Dari aspek kelembagaan
pendidikan Islam di Indonesia dinaungi oleh Kementarian Agama RI, dimana
pendidikan Islam telah dimasukkan dalam kurikulum pendidikan nasional mulai
dari tingkat dasar sampai dengan perguruan tinggi. Sedangkan di Iran pendidikan
islam berada langsung di bawah Kementerian Pendidikan Nasional Iran.
Di sisi lain jumlah penduduk Iran 90% menganut paham Syiah,
sehingga pendidikan Islam di Iran mengarah kepada Islam Syiah. Sedangkan di
Indonesia sebagaian besar berpaham
Sunni.
Dari pola pendidikan islam yang dilaksanakan sejak revolusi Iran
1979 pendidikan islam terintegrasi dalam semua mata pelajaran. Mata pelajaran
agama tetap diberikan untuk memperdalam pengetahuan peserta didik tentang ilmu
keagamaan. Untuk mengawasi dan memastikan bahwa lembaga pendidikan tetap memberikan matri pelajaran sesuai
dengan ajaran Islam, lembaga pendidikan diawasi oleh lembaga revolusi
kebudayaan. Sedangkan di Indonesia pendidikan Isla hanya sebatas mata pelajaran
agama Islam dan masih ditemukan pertentangan teori antara satu mata pelajaran
dengan pelajaran agama Islam, misalnya
tentang teori evolusi Darwin.[16]
BAB III
KESIMPULAN
Dari pembahasan
diatas dapat disimpulkan bahwa:
1.
Sejarah
pendidikan di Iran ialah dalam rangka menghilangkan kebodohan, Reza Pahlevi
memerintahkan berdirinya Badan Pemberantasan Buta Huruf (Literacy Corps)
dan sekolah-sekolah yang mampu menampung semua anak, baik laki-laki maupun
perempuan. Dalam upaya menghilangkan kemiskinan ia
mendirikan Badan Perluasan dan Pengembangan (Extention And Developmen Corps)
untuk mengatasi masalah kemiskinan pedesaan.
2.
Sistem
kebijakan pendidikan di Iran adalah pendidikan harus
dikembangkan untuk meningkatkan produktivitas, mewujudkan integrasi sosial, moral, dan spiritual dengan penekanan utama untuk memperkuat dan mendorong keimanan terhadap Islam. Pendidikan di Iran dibiayai oleh
Pemeintah
3.
Perbandingan
sistem kebijakan pendidikan di Iran dengan di Indonesia adalah pendidikan di
Iran sudah relevan dengan pendidikan agama. Pendidikan di Indonesia terutama
pendidikan agama masih dianggap pendidikan ajaran agama.
DAFTAR PUSTAKA
Assegaf, Abd. Rachmad. Internasionalisasi Pendidikaan. Yogyakarta: Gama Media, 2003.
Nur,
Agustiar Syah. Perbandingan Sistem Pendidikan 15 Negara. Bandung: Lubuk
Agung, 2001.
Perbandingan
Pendidikan Islam di Indonesia dengan Negara Iran. http://www.slideshare.net/mobile/suyayahya/perbanddingan-pendidikan-islam-di-indonesia-dan-negara-iran .
diakses pada tanggal 24 Mei 2018 pada
pukul 12:30.
Rasydin. Jurnal Media Akademika. Pendidikan Islam
di Republik Iran. Vol 26 No 26. April 2011.
Shaleh, M
Nurul Ikhsan. Jurnal
Pendidikan Islam. Vol 4: No 1, Tahun 2015.
[2] Ibid.
[4] Ibid.,
79.
[6] Rasydin,
Jurnal Media Akademika, Pendidikan Islam di Republik Iran, Vol 26 No 26,
April 2011, 265.
[7] Ibid.
[8] Ibid.
[9] Ibid., 266.
[11]
Abdullah Rachman Assegaf, Internasionalisasi Pendidikan (Yogyakarta: Gama Media, 2003), 75.
[12]
Agustiar Syah Nur, Perbandingan Sistem Pendidikan 15 Negara (Bandung:
Lubuk Agung, 2001), 129-130.
[13] Ibid.,
133.
[16] Perbandingan
Pendidikan Islam di Indonesia dengan Negara Iran. http://www.slideshare.net/mobile/suyayahya/perbanddingan-pendidikan-islam-di-indonesia-dan-negara-iran , diakses pada
tanggal 24 Mei 2018 pada pukul 12:30.
Komentar
Posting Komentar