PRINSIP DAN METODE PENINGKATAN KUALITAS AQIDAH


PRINSIP DAN METODE PENINGKATAN KUALITAS AQIDAH

A.    Pinsip-prinsip dan Metode Peningkatan Kualitas Aqidah
1.      Prinsip-Prinsip Akidah Islam 
Prinsip-prinsip akidah secara keseluruhan tercakup dalam sejumlah prinsip agama Islam. Prinsip-prinsip tersebut adalah :
a.       Pengakuan dan keyakinan bahwa Allah Swt. adalah Esa. Beriman  kepada  Allah dan hanya menyembah kepada  Allah, dan tidak menyekutukan Allah.
b.      Pengakuan bahwa para Nabi telah diangkat dengan sebenarnya oleh Allah Swt. untuk menuntun umatnya. Meyakini  bahwa para Nabi adalah utusan Allah Swt.
c.       Kepercayaan akan adanya hari kebangkitan. Keyakinan seperti ini memberikan kesadaran bahwa kehidupan dunia bukanlah akhir dari segalanya. Setiap orang pada hari akhir nanti akan dibangkitkan dan akan dimintai pertanggungjawaban selama hidupnya di dunia.
d.      Keyakinan bahwa Allah Swt. adalah Maha Adil. Jika keyakinan seperti ini tertanam di dalam hati, maka akan menumbuhkan keyakinan bahwa apa yang dilakukan akan  mendapatkan balasan dari Allah Swt. Orang yang berbuat kebaikan akan mendapatkan balasan yang baik, seberapapun kecilnya kebaikan itu. Sebaliknya perbuatan jelek sekecil apapun akan mendapatkan balasan yang setimpal dari Allah Swt.[1]
2.      Metode-metode peningktan kualitas akidah
Metode-Metode Peningkatan Kualitas Akidah Seorang mukmin harus memiliki kualitas akidah yang baik, yaitu akidah yang benar, kokoh dan tangguh. Kualitas akidah tidak hanya diukur dari  kemauan seseorang untuk percaya kepada Allah Swt. atau kepada yang lain seperti yang tercantum di dalam rukun iman. Namun lebih jauh dari itu, kepercayaan itu harus bisa dibuktikan dalam praktik kehidupan sehari-hari. Percaya saja tidak cukup, tapi harus diikuti dengan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari di manapun berada.[2]
Untuk itu mengingat pentingnya kekuatan akidah itu dimiliki oleh setiap mukmin, maka diperlukan upaya-upaya atau cara-cara yang baik agar bisa meningkatkan keyakinan dan memudahkan menerapkan semua keyakinannya itu di dalam kehidupannya di masyarakat. Di antara cara atau metode yang bisa diterapkan adalah:
a.       Memperbanyak membaca Al-qur’an (QS Al Isra’: 82)
b.      Mendalami ilmu agama dan ilmu lain yang mendukungnya (QS Al-Fatir: 28)
c.       Banyak melakukan amal sholeh yang sesuai dengan syari’ah Islam (QS: Al-Hadid:21)
d.      Memperbanyak Dzikir baik dzikir qouli maupun dzikir amali (QS. Al-Ro’du: 28)
e.       Menghayati keagungan dan kekuasaan Allah melalui ayat-ayatnya baik qouliyah maupun kauniyah (QS. Alz-Zumar: 67)
f.        Memperbanyak ibadah baik ibadah mahdah maupun ghairu mahdah.[3]

B.     Tauhid
1.      Pengertian Tauhid
Menurut bahasa kata tauhid berasal dari bahasa Arab tauhid bentuk masdar (infinitif) dari kata wahhada,  yang artinya al-i’tiqaadu biwah daniyyatillah (keyakinan atas keesaan  Allah). Sedangkan pengertian secara istilah tauhid ialah meyakini bahwa Allah Swt. itu Esa dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Kesaksian ini dirumuskan dalam kalimat syahadat. Laa ilaha illa  Allah (tidak ada Tuhan selain  Allah). [4]
Tauhid artinya mengesakan  Allah. Esa berarti Satu.  Allah tidak boleh dihitung dengan satu, dua atau seterusnya, karena kepada-Nya tidak layak dikaitkan dengan bilangan. Beberapa ayat al-Qur’an telah dengan jelas mengatakan keesaan  Allah. Di antaranya surah al-Ikhlas ayat 1-4 sebagai berikut:
قُلۡ هُوَ ٱللَّهُ أَحَدٌ ١  ٱللَّهُ ٱلصَّمَدُ ٢  لَمۡ يَلِدۡ وَلَمۡ يُولَدۡ ٣  وَلَمۡ يَكُن لَّهُۥ كُفُوًا أَحَدُۢ ٤
Artinya: “ Katakanlah: "Dia-lah Allah, yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia."
Dari ayat di atas dapat ditangkap penjelasan bahwa  Allah itu Maha Esa. Keesaan Allah Swt. itu menurut M. Quraish Shihab mencakup keesaan Zat, keesaan Sifat, keesaan Perbuatan, serta keesaan dalam beribadah kepada Nya. [5]
Sedangkan keesaan dalam beribadah merupakan perwujudan dari ketiga keesaan di atas.
لِلَّهِ مُلۡكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَمَا فِيهِنَّۚ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرُۢ ١٢٠
Artinya: “Katakanlah: Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam”. (al-An`am: 162)
Dari sini dapat disimpulkan bahwa segala bentuk peribadatan harus ditujukan hanya kepada  Allah semata. Hanya  Allah yang wajib disembah. Tidak boleh peribadatan itu ditujukan kepada selain Allah Swt.
keesaan Allah Swt. sangat penting ditanamkan dalam hati setiap orang yang mengimani adanya Allah Swt. Oleh karena itu, untuk mendukung ketercapaian keimanan tersebut harus didukung dengan pemahaman mengenai llmu tauhid dan cabang-cabang lain dari ilmu tauhid. Dengan pemahaman yang utuh seperti ini, diharapkan bisa memudahkan seseorang untuk bertauhid yang benar. [6]
2.      Nama-Nama Ilmu Tauhid
Ilmu tauhid memiliki beberapa sebutan lain seperti berikut:
a.       Ilmu Ushuluddin
Ilmu ushuluddin adalah ilmu tentang pokok-pokok agama. Karena ilmu itu menguraikan pokok-pokok atau dasar-dasar agama.
b.      Ilmu Aqaid
Ilmu tauhid sering juga disebut ilmu aqaid (keyakinan), yakni membahas masalah-masalah  yang berhubungan dengan keyakinan.
c.         Ilmu Kalam
Kalam berarti pembicaraan, yakni pembicaraan yang bernalar dengan menggunakan logika. Ilmu kalam adalah ilmu yang berisi alasan-alasan mempertahankan kepercayaan-kepercayaan iman dengan menggunakan dalil-dalil pikiran dan berisi bantahan terhadap orang-orang yang menyelewengkan dari kepercayaan-kepercayaan aliran golongan salaf dan ahli sunnah.
d.      Ilmu Ilahiah
Ilmu tauhid juga dikenal dengan sebutan ilmu ilahiah, karena yang menjadi obyek utama ilmu ini pada dasarnya adalah masalah ketuhanan. Ilmu tauhid juga kadang disebut dengan teologi. Teologi adalah ilmu tentang Tuhan atau ilmu ketuhanan.[7]
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa istilah teologi Islam, ilmu kalam, dan ilmu tauhid memiliki kesamaan pengertian, yaitu di sekitar masalah-masalah sebagai berikut;
1)      Kepercayaan tentang Tuhan dengan segala seginya, yang berarti termasuk di dalamnya soal-soal wujud-Nya, keesaan-Nya, sifat-sifat-Nya dan sebagainya.
2)      pertalian-Nya dengan alam semesta, yang berarti termasuk di dalamnya persoalan terjadinya alam, keadilan dan kebijaksanaan Tuhan, serta qada dan qadar. Pengutusan rasul-rasul juga termasuk di dalam persoalan pertalian manusia dengan Tuhan, yang meliputi juga soal penerimaan wahyu dan berita-berita alam ghaib atau akhirat.
3.      Ruang Lingkup Tauhid
Pokok-pokok pembahasan yang menjadi ruang lingkup ilmu tauhid meliputi tiga hal sebagai berikut:
a.       Ma’rifat al-mabda’ yaitu mempercayai dengan penuh keyakinan tentang Pencipta alam yaitu Allah Swt. Hal ini sering diartikan dengan wujud yang sempurna, wujud mutlak atau wajibul wujud.
b.      Ma’rifat al-watsiqah yaitu mempercayai dengan penuh keyakinan tentang para utusan Allah Swt. yang menjadi utusan dan perantara Allah Swt. dengan umat manusia untuk menyampaikan ajaran-ajaran Nya, tentang kitab-kitab  Allah yang dibawa oleh para utusan-Nya dan tentang para malaikat-Nya.
c.       Ma’rifat al-ma’ad yaitu mempercayai dengan penuh keyakinan akan adanya kehidupan abadi setelah mati di alam akhirat dengan segala hal ihwal yang ada di dalamnya.
4.      Macam-Macam Tauhid
Berdasarkan jenis dan sifat keyakinan tauhid, para ulama membagi ilmu tauhid dalam empat bagian; yaitu:
a.    Tauhid rububiyah
Tauhid rububiyah adalah berasal dari salah satu nama Allah al Rabb, yang memiliki beberapa makna pemeliharaan, pengasuh, penolong, penguasa, pendamai dan pelindung.
b.      Tauhid  Al-Asma wa’ al Sifat
Tauhid yang berhubungan dengan sifat  Allah yang Maha Memelihara yaitu mempercayai bahwa Allah Swt. adalah satu-satunya pencipta, pemelihara, penguasa dan pengatur alam semesta ini.
c.       Tauhid uluhiyah
Uluhiyah berasal dari kata al-ilah yang berarti sesuatu yang disembah dan sesuatu yang ditaati secara mutlak. Tauhid uluhiyah adalah meyakini bahwa tidak ada Tuhan selain Allah SWT.
d.      Tauhid Mulkiyah
Tauhid mulkiyah adalah sebuah pandangan yang meyakini bahwa Allah sebagai satu-satunya zat yang menguasai alam semeste ini. Tidak ada lagi zat lain yang turut serta dalam kekuasaan-Nya. Tidak ada sekutu atas kekuasaan  Allah di jagat raya ini.  Allah adalah al-Malik, Maha Raja di atas raja-raja yang ada di dunia.[8]
5.      Hikmah dan Manfaat Bertauhid
Orang yang bertauhid akan memiliki hikmah yang besar, antara lain:
a.       Tauhid yang kuat akan menumbuhkan sikap kesungguhan, pengharapan dan optimisme di dalam hidup ini. Sebab orang yang bertauhid meyakini bahwa kehidupan dunia adalah ladang akhirat.
b.      Orang yang bertauhid jika suatu saat dikaruniai harta, maka ia akan bersyukur dan menggunakan hartanya itu di jalan  Allah. Sebab ia yakin bahwa harta dan segala yang ada adalah milik  Allah.
c.       Dengan bertauhid akan mendidik akal manusia supaya berpandangan luas dan mau mengadakan penelitian tentang alam. Al-Qur’an telah memerintahkan kepada kita supaya memperhatikan penciptaan langit, bumi, dan segala isinya.
d.      Orang yang bertauhid akan merendahkan diri dan tidak tertipu oleh hawa nafsu yang ada pada dirinya. Misalnya,  jika ia akan tertipu hawa nafsu, maka dia segera mengingat bahwa  Allah Maha Kaya.
6.         Bahaya Tidak Bertauhid
Keimanan yang kuat akan memberikan hikmah dan manfaat yang besar. Sebaliknya, sikap tidak bertauhid akan mendatang hal-hal negatif, diantaranya:
a.       Orang yang tidak bertauhid akan mempunyai rasa pesimis dalam kehidupan sehari-hari.
b.      Orang yang tidak bertauhid akan berpandangan sempit. Ia tidak percaya terhadap Allah Swt. Ia akan mudah tertipu oleh hal-hal yang bersifat keduniawian.
c.       Orang yang tidak bertauhid akan tertutup hatinya ia akan  gelisah dan kegersangan jiwa. Meskipun tampaknya senang, itu hanyalah tipuan setan dan sifatnya hanyalah sementara.
d.      Orang yang tidak bertauhid akan masuk neraka, karena ia akan terjebak pada praktik kemusyrikan dan kemusyrikan adalah dosa yang tidak akan diampuni.

C.    Syirik dalam Islam
1.      Pengertian Syirik
Secara bahasa syirik berasal dari Bahasa Arab as-syirku, yang artinya  ta’addudul aalihati (kemusyrikan), dan  al-musyariku (sekutu, peserta), an-nashibu (bagian), dan asy-syirkatu wasysyarikatu (persekutuan, perseroan).
Secara istilah syirik adalah perbuatan, anggapan atau itikad menyekutukan Allah Swt. dengan yang lain, seakan-akan ada yang maha kuasa di samping Allah Swt. Orang yang menyekutukan  Allah disebut musyrik. Syirik merupakan dosa besar yang tidak terampuni.[9]
2.      Macam-Macam Syirik
Syirik terbagi menjadi dua macam, yakni syirk akbar (syirik besar) dan syirk asghar (syirik kecil)
a.       Syirik Akbar
Syirik akbar merupakan syirik yang tidak akan mendapat ampunan dari Allah SWT. dan pelakunya tidak akan masuk surga selama-lamanya. Syirik akbar ada dua yakni Dzahirun Jali (tampak nyata) dan Bathinun Khafi (tersembunyi).
b.      Syirik Asghar (syirik kecil)
Syirik asghar (syirk khafi) ialah perbuatan yang secara tersirat mengandung pengakuan ada yang kuasa di samping Allah Swt. Misalnya, pernyataan seseorang: “Jika seandainya saya tidak ditolong oleh dokter itu, saya pasti akan mati.” Pernyataan seperti ini menyiratkan seakan-akan ada pengakuan bahwa ada sesuatu yang berkuasa selain Allah Swt. Seorang mukmin yang baik dalam peristiwa seperti tersebut di atas akan berkata: “seandainya tidak ada pertolongan  Allah melalui dokter itu, saya pasti akan mati.”
Adapun contoh syirik kecil yaitu: bersumpah nama selain Allah , memakai azimat, mantera, sihir, peramalan, dukun dan tenung, bernadzar selain Allah, dan riya’.[10]
3.      Bahaya Perbuatan Syirik
Akibat negarif perbuatan syirik antara lain:
a.       Amalan saleh yang sudah dikerjakan oleh orang-orang yang berbuat     syirik akan lenyap dan sia-sia.
b.      Orang-orang musyrik benar-benar melakukan kezaliman yang besar.
c.       Akan masuk ke dalam neraka jahannam. Allah Swt.
4. Cara Menghindari Perbuatan Syirik
Di antara perilaku atau hal-hal yang bisa dilakukan agar seseorang terhindar dari perbuatan syirik adalah sebagai berikut:
a.       Selalu menegakkan shalat, karena dengan melakukan salat yang benar akan terhindar dari perbuatan keji dan munkar.
b.      Selalu berusaha meningkatkan ketakwaan kepada  Allah, karena dengan begitu akan selalu diberikan jalan keluar terhadap segala masalah yang dihadapi.
c.       Selalu berusaha melatih diri untuk senantiasa ingat bahwa syirik itu adalah dosa yang paling besar di antara dosa-dosa yang ada dan tidak akan diampuni oleh Allah Swt.
d.      Selalu mengingat  Allah di manapun berada. Dengan selalu mengingat  Allah hati akan tenang dan selalu berada dalam suasana kontak batin dengan sang Khaliq. Ibadah merupakan salah satu komponen paling mendasar dalam membangun kedekatan dengan Tuhan. Semakin banyak melakukan ibadah semakin terbuka kesempatan untuk bisa dekat dengan Tuhan. [11]

D.    Masalah Akhlak
Menurut Imam Ghozali, akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang dapat menimbulkan perbuatan dengan gampang dan mudah, tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan. Sedangkan ilmu akhlak adalah ilmu yang menjelaskan arti baik dan buruk, menerangkan apa yang seharusnya dilakukan oleh seseorang manusia kepada orang lain, menyatakan tujuan yang harus dituju oleh manusia didalam perbuatan mereka dan menunjukkan jalan untuk melakukan apa-apa yang harus diperbuat.[12] Akhlak dibedakan menjadi dua, yakni:
1.      Akhlak terpuji
Akhlak terpuji merupakan sumber ketaatan dan kedekatan kepada Allah SWT. Sehingga mempelajari dan menggamalkannya merupakan kewajiban individual setiap muslim.[13] Adapun macam-macam akhlak terpuji yakni:
a)      Qanaah
Secara bahasa berarti cukup, secara istilah yakni merasa cukup dengan apa yang dimiliki dan menjauhkan diri dari sifat ketidakpuasan atau kekurangan.
               Adapun komponen dalam qonaah yaitu menerima dengan rela apa adanya, memohon kepada Allah suatu tambahan rezeki yang layak dan diiringi dengan ikhtiar, sabar dalam kehidupan, tidak tertarik dalam tipu daya duniawi.
b)      Zuhud
Zuhud ialah tidak berhasrat kepada sesuatu yang mubah walaupun kesempatan untuk memperoleh atau mengerjakannya ada. Tumbuhnya sikap zuhud pada seseorang melalui proses, setelah orang memiliki iman yang makin tebal dan kuatserta adanya keinginan besar terhadap kehidupan akhirat yang lebih kekal.
c)      Sabar
Sabar adalah tahan menderita untuk menghadapui yang tidak disenangi dengan penuh ridha dan menyerahkan diri kepada Allah. Sabar itu ada tiga yaitu sabar dalam menunaikan ibadah, sabar dalam meninggalkan dan menjauhi maksiat, dan sabar dalam musibah.[14]
2.      Akhlak tercela
Segala bentuk akhlak yang bertentangan dengan akhlak terpuji disebut akhlak tercela. Akhlak tercela merupakan tingkah laku yang tercela yang dapat merusak keimanan seseorang dan menjatuhkan martabatnya sebagai manusia.[15] Adapun induk induk dalam sifat akhlak tercela yaitu:
a)      Iri hati, Dengki (Hasad)
Iri hati atau dengki adalah perasaan benci atau tidak senang kepada seseorang yang memperoleh keberuntungan atau kebahagiaan, serta mengharapkan agar keberuntungan atau kebahagiaan orang tersebut segera lenyap.
Seseorang yang mempunyai sifat iri hati atau dengki dapat ditimbulkan oleh beberapa sebab seperti halnya adanya rasa permusuhan dan kebencian, tidak bersyukur, riya’, perasaan tinggi hati, kikir atau pelit, dan malas.
b)      Sombong (Takabur)
Sombong adalah merasa diri lebih tinggi dari orang lain, baik keturunan, kekayaan, kepandaian, kedudukan, kecantikan atau ketampanan dan sebagainya.
c)      Tamak
Temak secara bahasa adalah rakus. Secara istilah cinta kepada dunia secara berlebihan tanpa memperhatikan hukum haram yang mengakibatkan adanya dosa besar. Ada beberapa hal yang dapat diupayakan untuk mengobati dan mencegah tamak, yakni yakin bahwa rezeki itu sudah ditentukan oleh Allah, membiasakan hidup sederhana dan tidak berlebih-lebihan, membiasakan hidup qana’ah menerima apa adanya.[16]






KESIMPULAN
Dari uraian diatas maka dapat disimpulkan bahwa:
1.      Prinsip-prinsip akidah secara keseluruhan tercakup dalam sejumlah prinsip agama Islam dan metose peningkatan kualitas aqidah, sedangkan Metode-metode Peningkatan Kualitas Akidah Seorang mukmin harus memiliki kualitas akidah yang baik, yaitu akidah yang benar, kokoh dan tangguh
2.      Tauhid artinya mengesakan  Allah. Esa berarti Satu.  Allah tidak boleh dihitung dengan satu, dua atau seterusnya, karena kepada-Nya tidak layak dikaitkan dengan bilangan
3.      Syirik dalam islam yakni perbuatan, anggapan atau itikad menyekutukan Allah Swt. dengan yang lain, seakan-akan ada yang maha kuasa di samping Allah Swt. Orang yang menyekutukan  Allah disebut musyrik. Syirik merupakan dosa besar yang tidak terampuni
4.      Akhlak merupskan sifat yang tertanam dalam jiwa yang dapat menimbulkan perbuatan dengan gampang dan mudah, tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan. Akhlak dibedakan menjadi dua yaitu akhlak terpuji dan akhlak tercela.










DAFTAR PUSTAKA

Abdurohim dkk,  Aqidah Akhlak. Jakarta: Kementrian Agama Republik Indonesia,2014.


Aziz, cara mudah memahami Aqidah. Jakarta: Pustaka at-Tazkia, 2006.


Ilyas, Yunahar.  Kuliah Akhlaq. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999.


Musyawarah Guru Bina PAI Madrasah Aliyah, Aqidah Akhlak. Sragen: Akik Pustaka, TT.


Prawiro, Teguh, Akidah Akhlak. Jakarta Timur: Yudhistira, 2011.


Saputro, D. H, Pendidikan Agama Islam Akidah Akhlak. Semarang: PT Karya Toha Putra, 2009.


[1] Abdurohim dkk,  Aqidah Akhlak (Jakarta: Kementrian Agama Republik Indonesia,2014), 9-10.
[2] Saputro, D. H, Pendidikan Agama Islam Akidah Akhlak (Semarang: PT Karya Toha Putra, 2009), 12.
[3] Musyawarah Guru Bina PAI Madrasah Aliyah, Aqidah Akhlak (Sragen: Akik Pustaka, TT), 9.
[4] Saputro, D. H, Pendidikan Agama Islam Akidah Akhlak, 14.
[5] Ibid.
[6] Aziz, cara mudah memahami Aqidah, 45-46.
[7] Aziz, cara mudah memahami Aqidah, 48.
[8] Musyawarah Guru Bina PAI Madrasah Aliyah, Aqidah Akhlak, 21.
[9] Aziz, cara mudah memahami Aqidah (Jakarta: Pustaka at-Tazkia, 2006), 30.
[10] Musyawarah Guru Bina PAI Madrasah Aliyah, Aqidah Akhlak, 33.
[11] Aziz, cara mudah memahami Aqidah (Jakarta: Pustaka at-Tazkia, 2006), 35.
[12] Musyawarah Guru Bina PAI Madrasah Aliyah, Aqidah Akhlak, 41-42.
[13] Yunahar Ilyas,  Kuliah Akhlaq (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999), 134.
[14] Musyawarah Guru Bina PAI Madrasah Aliyah, Aqidah Akhlak, 42-46.
[15] Yunahar Ilyas,  Kuliah Akhlaq (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999), 140.
[16] Teguh Prawiro, Akidah Akhlak (Jakarta Timur: Yudhistira, 2011), 56-58.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SISTEM DAN KEBIJAKAN PENDIDIKAN DI IRAN

PENANGGUNG JAWAB PENDIDIKAN MENURUT AJARAN ISLAM

PUASA