ANTROPOLOGI DAN SOSIOLOGI AGAMA


ANTROPOLOGI DAN SOSIOLOGI AGAMA
Makalah ini ditujukan untuk memenuhi tugas
“Metodologi Studi Islam”

Disusun oleh TB.B :
Rofida Faizatul M.                  (210315055)



Dosen Pengampu:
Dr. Sugihanto, M.Ag.

JURUSAN TARBIYAH
PROGAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
(IAIN) PONOROGO
BAB I
PENDAHULUAN
1.      Latar Belakang
Dewasa ini telah muncul suatu kajian agama yang menggunakan antropologi dan sosiologi sebagai basis pendekatannya. Berbagai pendekatan dalam memahami agama yang selama ini digunakan dipandang harus dilengkapi dengan pendekatan antropologi dan sosiologi tersebut. Berbagai pendekatan dalam memahami agama yang ada selama ini antara lain pendekatan teologis, normatif, filosofis, dan historis. Maka dari itu maka saya akan mencoba untuk menjelaskan kembali tentang antropologi serta sosiologi agama.

2.      Rumusan Masalah
1. Apa makna dari penelitian antropologi dan sosiologi agama?
2. Bagaimana model dari penelitian antropologi agama?
3. Bagaimana model dari penelitian sosiologi agama?
3.      Tujuan Masalah
1. untuk membahas mengenai makna dari penelitian antropologi serta sosiologi agama.
2. untuk membahas mengenai model penelitian antropologi agama.
3. untuk membahas mengenai model penelitian sosiologi agama.











BAB II
PEMBAHASAN
A.    Makna Penelitian Antropologi dan Sosiologi Agama
1.      Makna Penelitian Antropologi
Melalui pendekatan antropologi sosok agama yang berada pada dataran empiric akan dapat dilihat seerat-eratnya dan latar belakang mengapa ajaran agama itu muncul dan dirumuskan. Dalam penelitian antropologi agama dapat ditemukan adanya hubungan yang sehat antara lepercayaan agama dengan kondisi ekonomi dan politik. Menurut kesimpulan penelitian antropologi, golongan masyarakat kurang mampu dan golongan miskin lain pada umumnya lebih tertarik pada gerakan keagamaan yang bersifat mesianis, yang menjanjikan perubahan tatanan sosial kemasyarakatan. Sedangkan golongan kaya lebih cenderung untuk mempertahankan tatanan masyarakat yang sudah mapan secara ekonomi lantaran tatanan tersebut menguntungkan pihaknya.[1]
Dengan menggunakan pendekatan dan perspektif antropologi tersebut di atass dapat diketahui bahwa doktrin-doktrin dan fenomena-fenomena keagamaan ternyata tidak berdiri sendiri dan tidak pernah terlepas dari jaringan kelembagaan sosial masyarakat yang mendukung keberadaannya. Inilah makna dari penelitian antropologi.[2]

2.      Makna pendekatan sosiologi agama
Sebelum mengetahui secara lanjut kita akan mengetahui arti dari sosiologi itu sendiri. Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hidup bersama dengan masyarakat dan menyelidiki ikatan-ikatan antara manusia yang menguasai hidupnya itu. Sementara itu, Soejono Soekanto mengartikan sosiologi adaalah suatu ilmu pengetahuan yang membatasi diri terhadap persoalan penilaian. Didalam ilmu ini juga dibahas tentang proses-proses sosial yang terjadi di masyarakat.[3]
Dari dua definisi tersebut maka penulis menyimpulkan bahwa sosiologi adalah suatu ilmu yang membahas mengenai kejadian-kejadian yang terjadi di masyarakat.
Selanjutnya dalam sosiologi dapat digunakan sebagai salah satu pendekatan dalam memahami agama. Hal demikian dapat dimengerti, karena banyak bidang kajian agama yang baru dapat dipahami secara seimbang dan tepat apabila menggunakan jasa bantuan dari ilmu sosiologi.[4]
Dalam pandangan kaum sosiolog, agama memiliki fungsi yang sangat penting. Dalam hubungan ini, ada enam fungsi agama bagi kehidupan masyarakat.
a. Agama dapat memenuhi kebutuhan–kebutuhan tertentu dari manusia yang tidak dapat dipenuhi oleh lainnya.
b. Agama dapat berperan untuk memaksa orang untuk menepati janjinya.
c. agama dapat membantu kebutuhan sosial dengan memberikan nilai-nilai yang berfungsi menyalurkan sikap-sikap para anota masyarakat dan menetapkan kewajiban-kewajiban sosial mereka.
d. agama berperan membantu merumuskan nilai-nilai luhur yang berguna untuk menyatukan pandangannya.
e. Agama menerangkan fakta-fakta bahwa nilai yang ada hamper semuanya ada dalam kehidupan masyarakat.
f. agama memberikan gambaran tingkah laku berupa keharusan-keharusan yang ideal dalam membentuk nilai sosial yang baik.[5]

B.     Model Penilitian Antropologi Agama
Penelitian di bidang antropologi agama antara lain dilakukan oleh seorang antropologi bernama Clifford Geertz pada tahun 1950 an. Hasil penelitiannya itu telah dituliskan pada bukunya yang berjudul “The Religion of Java”.[6]
            Masyarakat Jawa di Mojokuto dilihat oleh Geertz sebagai suatu sistem sosial, dengan kebudayaan jawanya yang akulturatif dan agama yang sinkretik, yang terdiri atas subkebudayaan jawa yang masing-masing merupakan struktur-struktur sosial yang berlainan. Struktur-struktur sosial yang dimaksud adalah Abangan (yang intinya berpusa pedesaan), santri (yang intinya berpusat di pasar atau perdagangan), dan priyai (yang intinya berpusa dikantor pemerintahan). Adanya tiga struktur sosial yang berlainan ini menunjukkan bahwa kesan yang didapat dari pernyataan bahwa penduduk Mojokuto itu Sembilan puluh persen beragama islam, sesungguhnya terdapat variasi dalam sistem kepercayaan, nilai, dan upacara yang berkaitan dengan masing-masing struktur sosial tersebut.[7]
            Tiga lingkungan yang berbeda (pedesaan, pasar, dan kantor pemerintahan) dibarengi dengan latar belakang sejarah kebudayaan yang berbeda (yang berkaitan dengan masuknya agama serta peradaban Hindu dan islam di Jawa) telah mewujudkan adanya abangan yang menekankan pentingnya aspek-aspek animistic, santri yang menekankan pentingnya aspek-aspek ialam, dan priya yang menekankan aspek-aspek Hindu.[8]
Model penelitian yang dilakukan oleh Geertz adalah penelitian lapangan dengan pendekatan kualitatif. Penelitian ini didasarkan pada data-data yang dikumpulkan melalui wawancara, pengamatan, survey, dan penelituan Grounded Research, yakni penelitian yang penelitinya terlibat dalam kehidupan masyarakat yan ditelitinya. Dengan demikian, si peneliti tidak berangkat dari suatu teori atau hipotesis tertentu yang ingin di uji kebenarannya di lapangan. Seorang peneliti datang ke lapangan tanpa ada prakonsepsi apa pun terhadap fenomena keagamaan yang akan di amatinya.[9]
            Untuk mengumpulkan data-data yang diperlukannya itu,, Geertz menggunakan informan, yakni orang-orang yang dapat menyampaikan informasi tentang objek yang diteliti. Dari segi waktu yang digunakan untuk melakukan penelitian tersebut berlangsung dalam tiga tahap. Tahap pertama, antara September 1951 sampai 1952, persiapan yang intensif dalam bahasa Indonesia (yakniMelayu) dilakukandi Universitas Harvard, mula-mula di bawah professor Isadora Dyen dan kemudian hari menjadi Direktur Proyek, dengan bantuan orang-orang Indonesia. Waktu antara bulan Juli sampai Oktober 1952 dipergunakan di negeri Belanda, mewawancarai sarjana-sarjana Belanda yang ahli tentang Indonesia di Universitas Leiden dan Tropical Institut Amsterdam.[10]
            Tahap kedua, dari bulan Oktober 1952 sampai Mei 1953 di Yogyakarta, tempatnya ia mempelajari bahasa Jawa dengan mahasiswa mahasiswa Universitas Gajah Mada sehingga ia memperoleh sejumlah pengetahuam umum mengenai kebudayaan serta kehidupan orang Jawa. Masa ini juga ia juga mewawancarai pemimpin-pemimpin agama  dan politik di ibukota, sambil mengumpulkan data-data yang ia butuhkan.[11]
            Tahap ketiga, antara Mei 1953 sampai September 1954, ia melakukan penelitian yang sesungguhnya dengan terjun langsung dalam masyarakat. Ia melakukan seperti halnya wawancara dengan para informan.[12]
Selanjutnya dari segi informan yang di gunakan sebagai sampel dalam penelitiannya itu, Geertz melakukan banyak kegiatan sistematis dan lama dengan informan-informan tertentu mengenai sesuatu topic yang ia kaji, baik itu di rumah maupun di kantor. Sedangkan pendekatan analisisnya sebagaimana yang tersebut diatas adalah menggunakan kerangka teori yan terdapat dalam ilmu antropologi. Dengan pendekatan ini, maka fenomena keagamaan yang terjadi puau jawa dapat dijelaskan secara baik.[13]


C.    Model Penilitian Sosiologi Agama
Suatu hasil penelitian bidang sosiologi agama bisa saja berbeda dengan agama yang terdapat dalam doktrin kitab suci. Sosiologi agama bukan mengkaji benar atau salahnya suatu ajaran agama, tetapi mengkaji bagaimana agama tersebut dapat dapat dihayati dan dipahami oleh pemeluknya. Dalam hal ini, dapat terjadi apa yang ada dalam doktrin kitab suci berbeda dengan apa yang ada dalam kenyataan. Para sosiolog membuat kesimpulan tentang agama dari apa yang terdapat dalam masyarakat. Jika suatu pemeluk agama terbelakang dalam bidang ilmu pengetahuan, ekonomi, kesehatan, kebersihan, dll, kaum sosiolog terkadang menyimpulkan bahwa agama dimaksud merupakan agam untuk orang-orang yang terbelakang kesimpulan ini mungkin akan mengagetkan kaum tekstual yang melihat agama sebagaimana yang terdapat dalam kitab suci yang memang di akui ideal.[14]
KESIMPULAN
1.      Uraian di atas memperlihatkan bahwa pendekatan antropologi, dengan jelas dapat mendukung menjelaskan bagaimana suatu fenomena agama itu terjadi. Dari pendekatan dan persepektif antropologi di atas dapat diketahui bahwa doktrin-doktrin dan fenomenaU-fenomena keagamaan ternyata tidak berdiri sendiri dan tidak pernah lepas dari jaringan institusi atau kelembagaan sosial kemasyarakatan yang mendukung keberadaannya. Inilah makna dari penelitian antropologi dalam memahami gejala-gejala keagamaan. Dalam penelitian kaum sosiolog agama dijelaskan bahwa sukar bagi manusia, untuk dalam jangka waktu yang cukup lama, bersepakat mengatur tingkah laku mereka sesuai dengan macam-macam larangan dan perintah yang satu sama lain tidak bertalian. Apabila masyarakat diharapkan stabil, dan tingkah laku sosial masyarakat bisa tertib dan baik, maka tingkah laku yang baik harus ditata dan dipolakan sesuai dengan prinsip-prinsip tertentu yang relatif diterima dan disepakati bersama.
2.      Model penelitian yang dilakukan oleh Geertz adalah penelitian lapangan dengan pendekatan kualitatif sepeerti halnya ia melakukan pengamatan kepada lingkungan, berinteraksi dengan lingkungan, terjun langsung ke lapangan dengan cara wawancara kepada para informan untuk mengetahui topik yang ia kaji sehingga hal itu akan memudahkannya baginya untuk mengerjakan apa yang ia kaji.
3.      Model dari penelitian agama itu sendiri merupakan mengkaji ulang, memikirkan dan memahami akan ajaran itu. Serta merevisi ulang dengan melakukan penafsiran-penafsiran tentang agama tersebut.

DAFTAR PUSTAKA
Anwar Rosihon et,al., Pengantar Studi Islam. Cet, 8; Bandung: CV Pustaka Setia, 2009.
Nata Abuddin. Metodologi Studi Islam. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada 2003.
Nata, Abuddin. Metodologi Studi Islam. Cet, 21: Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2014.



       [1] Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam(cet: 21; Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2014),392.
       [2] Ibid.
       [3] Rosihon Anwar et,al., Pengantar Studi Islam(Bandung: CV Pustaka Setia, 2009),83.
       [4] Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam(Cet: 21; Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2003), 39.
       [5] Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam, 393-394.
       [6] Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam, 395.
       [7] Ibid., 396.
       [8] Ibid.
       [9] Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam, 397-398.
       [10] Ibid., 398-399.
       [11] Ibid., 399.
       [12] Ibid.
       [13] Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam, 401.
       [14] Ibid., 402-203.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SISTEM DAN KEBIJAKAN PENDIDIKAN DI IRAN

PENANGGUNG JAWAB PENDIDIKAN MENURUT AJARAN ISLAM

PUASA