KONSEP PENDIDIKAN DI INDONESIA (Menurut Ki HadjarDewantaradanDrijakarja)


KONSEP PENDIDIKAN DI INDONESIA
(Menurut Ki HadjarDewantaradanDrijakarja)
Makalah in ditujukan untuk memenuhi tugas mata kuliah
FilsafatPendidikan”
Disusun Oleh:
Kelompok/Kelas : 8/TB.B
Semester: 3
1.      RofidaFaizatulMaghfiroh                (210315055)
2.      RosyidaAmaliaForjannah                (210315049)
3.      SyukurMahanani                              (210315074)


Dosen Pengampu:
Muhammad Heriyudanta, M.Pd.I

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
(IAIN) PONOROGO
DESEMBER 2016
BAB I
PENDAHULUAN
A.     LatarBelakang
pendidikan merupakan
Pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara merupakan proses pembudayaan yakni suatu usaha memberikan nilai-nilai luhur kepada generasi baru dalam masyarakat yang tidak hanya bersifat pemeliharaan tetapi juga dengan maksud memajukan serta memperkembangkan kebudayaan menuju ke arah keluhuran hidup kemanusiaan.MenurutDrijakarjaPendidikan sebagai upaya memanusiakan manusia muda atau pengangkatan manusia muda ke taraf insani.
B.     RumusanMasalah
1.      Bagaimana konsep pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara?
2.      Bagaimana konsep pendidikan menurut Dijarkara?












BAB II
PEMBAHASAN
A.    Konsep Pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara
Pandangan pendidikan Ki Hajar Dewantara menganut paham developmentalisme, terutama dipengaruhi oleh konsep-konsep froebel. Hal ini antara lain terlihat pada tujuh prinsip pendidikan, antara lain:
1.      Hak seseorang akan mengatur dirinya sendiri (selfbesehikkingrecht) dengan memperingati tertibnya persatuan dalam perkehidupan umum.
2.      Dalam sistem ini maka pengajaran berarti mendidik anak akan menjadi manusia yang merdeka batinnya, merdeka pikirannya, dan merdeka tenaganya.
3.      Tentang zaman yang akan datang, maka rakyat indonesia dalam kebingungan yang seringkali tertipu oleh keadaan.
4.      Didalam zaman kebingungan nilai kultur digunakan sebagai penunjuk jalan, untuk mencari penghidupan baru yang selaras damai.
5.      Untu dapat berusaha menurut asas dengan bebas yang leluasa, maka kita harus bekerja menurut kekuatan sendiri.
6.      Menurut kekuatan sendiri, maka haruslah belanja dan usaha kita itu dipikul sendiri dengan uang pendapatan biasa.
7.      Meniatkan diri untuk mengadakan adanya pendidikan anak.[1]
Pemikiran Ki Hajar Dewantara memiliki inti ingin “memajukan bangsa tanpa adanya perbedaan”. Ajaran Ki Hajar Dewantara yang saat ini dipakai sebagai sebagai lambang Departemen Pendidikan Nasional yaitu, Ing Ngarso Sung Tulado, Ing Madya Mangun Karso, Dan Tut Wuri Handayani.[2]
Ki Hajar Dewantara mendirikan pendidikan kebangsaan yang terkenal dengan Taman Siswa (3-7-1922). Sifat, sistem, dan metode pendidikan Taman Siswa diringkas ke dalam empat keemasan, yaitu Asas Taman Siswa, Panca Dharma, Adat Istiadat, dan semboyan atau perlambang.[3]
Taman siswa mempunyai tugas untuk mewujudkan sistem pendidikan dan pengajaran nasional. Hal ini mengandung arti bahwa taman siswa teguh mempertahankan dan memelihara asas-asas dan dasar-dasar taman siswa dari segala macam marabahaya perpecahan yang bersumber dari semangat perseorangan dan ancaman dari luar (pemerintah penjajahan Belanda dan Jepang), yang dilaksanakan dalam bentuk melakukan perlawanan secara positif. Fungsi selanjutnya adalah membangun masyarakat dan kebudayan dengan melalui pembangunan manusia-manusia yang merdeka lahir dan batin, dan bersama-sama mewujudkan kebudayaan kebangsaan yang berdasarkan adab kemanusiaan.[4]
Ki Hajar Dewantara menyatakan bahwa cita-cita pendidikan taman siswa adalah membangun orang-orang yang berpikir merdeka baik lahir maupun batin. Hal ini dapat dicapai apabila tertanam dalam diri setiap orang yang memiliki kecakapan panca-indera, ketajaman berpikir, kejernihan berperasaan, kemantapan dan kuatnya kemauan dan tenaga serta keluhuran  budi pekerti.[5]
1.      Struktur organisasi persekolahan
Perguruan Nasional Taman Siswa mengembangkan semua jenjang pendidikan dari tingkat paling rendah sampai pendidikan tinggi. Adapun jenjangnya meliputi:
a.       Taman indria
Jenjang ini untuk anak yang berusia 5 atau 6 tahun.
b.      Taman anak
Jenjang ini untuk anak yang berusia 6 atau 7 tahun sampai 9 atau 10 tahun.


c.       Taman muda
Jenjang ini untuk anak yang berusia 10 atau 11 tahun sampai 12 atau 13 tahun.
d.      Taman dewasa
Jenjang ini untu anak yang berusia 13 atau 14 tahun sampai 16 atau 17 tahun.
e.       Taman madya
Jenjang ini untuk anak usia 17 atau18 tahun sampai 20-21 tahun.
f.       Taman sarjana
Jenjang ini untuk seseorang yang berusia 21 atau 22 tahun sampai 26-27 tahun.
g.      Taman guru
Taman guru disini dibagi menjadi beberapa jenjang yang pertama taman guru indria yang ditujukan untuk gadis-gadis tamatan Taman dewasa. Kedua taman guru B I, yang ditujukan untuk tamatan dari taman guru indria. Ketiga, taman guru B II, yang ditujukan untuk seseorang yang luus dari taman guru B I. Keempati taman guru B III, yang ditujukan untuk lulusan dari jenjang sebelumnya. Semua dari keempat jenjang tersebut ditempuh selama satu tahun lamanya.
h.      Taman karya
Jenjang pendidikan menengah kejuruan yang mempersiapkan tenaga kerja yang dibutuhkan masyarakat, yang setingkat dengan taman dewasa dan taman madya.[6]
2.      Isi pendidikan
Isi pendidikan keseluruhan jenis pendidikan di taman siswa pada dasarnya kebudayaan yang dapat memlihara dan memajukan serta mempertinggi dan menyempurnakan pertumbuhan jiwa raga anak, sesuai dengan garis-garis kodrat alamnya yang berarti mampu mengembangkan:
a.       Kecakapan panca-indera
b.      Ketajaman berpikir
c.       Kejernihan berperasaan
d.      Ketetapan dan kekuatan kemauan dan tenaga
e.       Keseluruhan budi pekerti.
Dengan demikian, penguasaaan pengetahuan bukanlah tujuan akhir pendidikan, tetapi alat untyk mencapai perkembangan tiang-tiang kemerdekaan hidup.[7]
3.      Metode pendidikan
a.       Sistem Among
Sistem among yaitu sistem pendidikan dengan guru yangberperanan sebagai pamong, yaitu sebagai pemimpin yang berdiri dibelakang, dengan semboyan “tut wuri handayani”, yakni tetap mempengaruhi dengan memberi kesempatan kepada pesdik untuk berjalan sendiri, tidak terus menerus dituntun dari depan. Dengan begitu maka si “pamong” hanya wajib menyingkirkan segala apa yang merintangi jalannya anak-anak serta hanya bertindak aktif dan mencampuri gerak-geriknya apabila anak-anak sendiri tidak dapat menghindarkan dirinya dari bahaya yang mengancam keselamatannya.
b.      Penciptaan kehdupan dalam penyelenggaraan taman siswa yang sesuai dengan cita-cita taman siswa. Hal ini dilaksanakan dengan jalan menetapkan peraturan-peraturan taman siswa, dan memelihara adat istiadat taman siswa, dengan tujuan memudahkan pemahaman, penghayatan dan pengalaman cita-cita taman siswa dalam praktek penyelenggaraan pendidikan di taman siswa.[8]


B.     Konsep Pendidikan menurut Driyakarya

1.      Huminisasi dan Humanisasi menurut Driyakarya
Istilah hominisasi dan humanisasi atau memanusiakan manusia muda merupakan rumusan filsafat pendidikan Driyarkara, yang mengarahkan pada proses kesadaran untuk memanusiakan manusia. Hominisasi adalah proses pemanusiaan pada umumnya. Manusia berbeda dengan makhluk lainnya, seperti binatang ataupun tumbuhan, manusia tidak akan sampai pada fase ‘ke-manusiawi-an-nya’ tanpa pendidikan. Lain halnya dengan binatang. Binatang tidak perlu pendidikan, karena pada hakikatnya tidak memiliki akal budi. Sedangkan humanisasi merupakan proses lanjutan setelah hominisasi. Dalam proses ini manusia mampu mencapai perkembangan lebih lanjut, realisasi diri dalam laju budaya dan ilmu pengetahuan.14 Untuk melacak ciri-ciri pendidikan yang memiliki nuansa humanis menurut Driyarkara, dapat ditemukan dalam gagasannya tentang manusia yang telah disinggung sebelumnya. Singkat kata, pembentukan manusia-manusia yang memiliki keahlian saja tidak cukup. Keahlian idealnya harus dibarengi dengan pendidikan pribadi. Dalam istilah Driyarkara, “Pintar tanpa kesusilaan hanya akan menjadi minteri (menyalahgunakan kepandaian)”.

2.      Fenomena Pendidikan menurut Driyakarya
Driyarkara memandang pendidikan bukan sebagai ide; rancangan yang tersusun dalam pikiran, cita-cita yang terletak di sini ataupun di sana tanpa adanya perubahan. Melainkan sebagai realitas terbuka, dinamis, atau katakanlah sebagai aktivitas. Pendidikan adalah suatu pengembangan dan perkembangan yang aktif.15 Maka, untuk memahami gagasan tentang hominisasi dan humanisasi, Driyarkara masuk melalui fenomena pendidikan. Lebih jauh lagi, Driyarkara meletakan fenomena pendidikan sebagai objek ilmu mendidik. Fenomena adalah kata yang berasal dari bahasa Yunani, phainomenon (phainomaia, menampakan diri).16 Artinya, fenomena adalah sesuatu yang menampakkan diri. Namun perlu diperhatikan, segala sesuatu yang menampakkan diri atau tampak, tidak direduksi hanya dalam dimensi penglihatan, hanya diartikan tampak di depan mata. Fenomena yang dimaksud Driyarkara adalah tampak di hadapan manusia; di hadapan budi, tubuh, jiwa atau katakanlah di hadapan persona. Pemahaman Driyarkara mengenai fenomena, senada dengan fenomenologi yang difahami oleh Merleau-Ponty, fenomenologi persepsi yang menitik-tekankan tubuh sebagai sebuah wahana yang mendunia.17 Kesatuan manusia yang menangkap gejala-gejala, bukan hanya terbatas pada fungsi-fungsi tertentu dalam diri manusia. Asumsi sementara, Driyarkara banyak dipengaruhi tokoh-tokoh eksistensialis yang acapkali menggunakan pendekatan fenomenologi. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia dihadapkan dengan relitas yang begitu kompleks, dengan warna-warni fenomena. Pertanyaannya, dari sekian banyak fenomena manakah yang dapat dikategorikan fenomena pendidikan?. Driyarkara menjelaskannya dengan sangat hati-hati. Menurut Asep Rifqi Abdul Aziz – Konsep Hominisasi dan Humanisasi Driyarkara, fenomena pendidikan adalah perbuatan yang diberi arti.18 Pada dasarnya, perbuatan memiliki sifat netral, bisa dipastikan tidak ada perbuatan yang an sich sudah memiliki muatan pendidikan. Misalnya, ayah sedang membaca. Si anak bisa katakana secara langsung bahwa ayah sedang membaca, dan rasanya mustahil mengatakan bahwa ayah sedang mendidik. Kecuali si anak memberikan arti dari perbuatan ayahnya yang sedang membaca. Gagasan tentang memberikan arti pada setiap perbuatan– fenomena pendidikan—senada dengan para eksistensialis memandang validitas pengetahuan dalam pendidikan. Berangkat dari asumsi, individu bertanggungjawab penuh atas pengetahuannya para eksistensialis selanjutnya menyatakan validitas pengetahuan yang mewarnai dunia pendidikan ditentukan oleh nilai dan arti yang didapatkan oleh setiap individu.19 Jadi, bernilai atau tidaknya perbuatan sangat tergantung pada manusia yang memandang perbutan tersebut. Penelitian Driyarkara tidak berhenti pada fenomena pendidikan. Driyarkara menggali lebih dalam tentang gambaran dasar pendidikan atau jiwa pendidikan. Secara eksplisit, Driyarkara menggunakan pendekatan fenomenologi dalam menenentukan gambaran dasar pendidikan. Bukan hanya mengamati segala sesuatu–dalam konteks pendidikan, fenomena pendidikan—yang tersurat tapi juga yang tersirat. Sederhananya, melalui fenomena, Driyarkara mencoba menangkap noumena. Driyarkara ingin menyampaikan bahwa fenomenologi tidak berhenti dalam memandang segala sesuatu yang nampak saja, melainkan memberi arahan pada manusia untuk mencapai tingkat kesadaran dalam situasi yang kompleks. 20
18 Driyarkara, dkk. (ed), Karya Lengkap Driyarkara; Esai-Esai Pemikiran yang Terlibat Penuh dalam Perjuangan Bangsanya, (Jakarta: Gramedia, 2006), 357.  19 Gerald L. Gutek, Philosophical and Ideological Perspectives on Education, (New Jesey: Prentice-Hall, 1988), 125.  20 Driyarkara, dkk. (ed), Karya Lengkap Driyarkara; Esai-Esai Pemikiran yang Terlibat Penuh dalam Perjuangan Bangsanya, (Jakarta: Gramedia, 2006), 360.
 – Vol. XIII, No. 1, Januari – Juni 2016    |      139 Jiwa pendidikan, menurut Driyarkara bukanlah rumusan yang jatuh ataupun dipetik dari langit, melainkan dari realitas yang kompleks. Jiwa pendidikan adalah pemanusiaan manusia muda. Dalam konteks perbuatan mendidik, jiwa pendidikan dimaknai sebagai tindakan yang memanusiakan manusia muda, tindakan yang mengangkatnya ke taraf insani.21 Untuk sampai pada gagasan jiwa pendidikan, Driyarkara menggunakan medium pergaulan antara pendidik dan peserta didik. Driyarkara mengandaikan pergaulan sebagai ladang, yang di dalamnya tumbuh perbuatan mendidik. Hal itu dikarenakan dibalik pergaulan–yang diposisikan sebagai gejala pendidikan—terdapat hubungan resiprokal antara pendidik dan peserta didik yang dinamakan pendidikan. Dalam menelusuri rimba pendidikan yang belum menemukan titik terang, Driyarkara menjelaskan tentang perbuatan mendidik secara lebih terperinci. Mendidik, menurut Driyarkara termasuk dalam golongan aktivitas fundamental. Artinya, perbuatan yang seolah-olah menyentuh akar kehidupan manusia, sehingga dapat merubah dan menentukan arah hidup.22 Kata kuncinya ada pada mengubah dan mentukan arah hidup manusia. Berangkat dari tergolongnya mendidik ke dalam aktivitas fundamental, maka antara pendidikan dan pelaksanaannya terdapat perbedaan. Seperti cinta dan bentuk kongkritnya, benci juga dengan bentuk kongkritnya. Singkat kata, perbuatan mendidik merupakan penjelmaan dari sesuatu. Orang tua, sebagai pendidik mempunyai konsep tentang manusia; manusia yang baik adalah manusia yang tidak merendahkan dirinya dengan meminta-minta. Sebelum memarahi anaknya, sebagai peserta didik, tatkala si anak mengulurkan tangan sebagai tanda meminta sesuatu dari orang lain. Dari sini bisa dipahami, larangan akan meminta-minta adalah penjelmaan dari konsep manusia baik menurut orang tua. Kalau diperhatikan secara
21 Driyarkara, dkk. (ed), Karya Lengkap Driyarkara; Esai-Esai Pemikiran yang Terlibat Penuh dalam Perjuangan Bangsanya, 364.  22 Driyarkara, dkk. (ed), Karya Lengkap Driyarkara; Esai-Esai Pemikiran yang Terlibat Penuh dalam Perjuangan Bangsanya,  358. 
 140      |   Asep Rifqi Abdul Aziz – Konsep Hominisasi dan Humanisasi teliti, Driyarkara masih mengandaikan nilai-nilai yang lahir dari budaya sebagai pijakan untuk menjalankan pendidikan secara kongkret.
Pendidikan sebagai Pemanusiaan Manusia Muda Pertanyaan yang terbesit dalam gagasan Driyarkara tentang memanusiakan manusia muda adalah mengapa harus manusia muda? Mengapa tidak manusia secara umum yang tanpa batasan usia? Apakah manusia tua tidak perlu dimanusiakan?. Kurang tepat rasanya kalau menafsirkan manusia muda menggunakan pendekatn kuantitatif. Manusia muda memiliki usia antara sekian sampai sekian. Namun lebih tepat, menafsirkan manusia muda menggunakan pendekatan kualitatif, manusia muda adalah manusia yang belum memiliki integrasi, dalam artian manusia yang belum mencapai tarap keutuhannya. Akan lebih jelas, jika menilik kembali gagasan Driyarkara tentang manusia. Driyarkara juga memiliki pandangan bahwa mendidik adalah membentuk manusia muda sehingga ia menjadi keseluruhan yang utuh sehingga ia merupakan integrasi.23 Harus diakui bersama bahwa manusia adalah makhluk yang aneh. Manusia harus mengangkat dirinya untuk hidup dan berada sesuai dengan kodratnya.24 Lain halnya dengan kucing. Kucing sudah ‘mengkucing’ sejak kelahiranya, sudah kodratnya sebagai kucing tanpa harus mengangkat dirinya menjadi kucing. Jadi, manusia harus memanusiakan dirinya. Perhatikan orang gila, pada dasarnya ia memang manusia secara umum hominisasi, namun apakah dia punya hasrat untuk memanusiakan dirinya humanisasi. Kalaulah manusia yang waras, dengan kemawasdiriannya, tatkala ia tidak punya hasrat untuk memanusiakan dirinya dengan pendidikan, maka tidak ada bedanya dengan orang gila.
23 Driyarkara, dkk. (ed), Karya Lengkap Driyarkara; Esai-Esai Pemikiran yang Terlibat Penuh dalam Perjuangan Bangsanya, 299. 24 Driyarkara, dkk. (ed), Karya Lengkap Driyarkara; Esai-Esai Pemikiran yang Terlibat Penuh dalam Perjuangan Bangsanya, 367. 
 – Vol. XIII, No. 1, Januari – Juni 2016    |      141 Pendidikan sebagai pemanusiaan manusia muda selalu menjadi medium yang menemani pertumbuhan manusia dari bayi, bahkan semenjak dalam kandungan, untuk menjadi manusia yang mencapai integritasnya. Perlu digarisbawahi, manusia bukanlah sebatas makhluk biologis, melainkan seorang pribadi, seorang person, seorang subjek yang mengerti diri, menempatkan diri dalam situasi, mengambil sikap, menetukan arah hidupnya. Dengan kata lain, nasibnya ada pada tangannya sendiri. Itulah yang disebut oleh Driyarkara sebagai puncak dari proses yang selalu terjadi pada diri manusia.25 Berbicara tentang hominisasi tidak bisa dilepaskan dari humanisasi. Bahkan menurut Driyarkara, membincang humanisasi saja sudah cukup. Namun tidak sesederhan itu, setiap istilah memiliki konsekuensinya tersendiri. Hominisasi membincang manusia secara umum sesuai dengan kodratnya. Humanisasi berbicara tentang perkembangnya menuju tingkat yang niscaya, melalui proses yang dinamis. Tidak ada perbincangan hominisasi tanpa humanisasi, tapi tidak sebaliknya. Selanjutnya, Driyarkara menjelaskan bahwa tingkat humanisasi merupakan tingkat kebudayaan yang lebih tinggi. Manusia mampu mengakat alam menjadi alam manusiawi , tanah menjadi ladang, tumbuh-tumbuhan menjadi tanaman, barang materi menjadi alat, rumah dan lain sebagainya. Hal ini menunjukan manusia telah sampai pada taraf humanisasinya.26



[1] Redja Mudyaharjo, Pengantar Pendidikan(jakarta: PT Radja Grafindo Persada, 2001), 297-300.
[2]Sukardjo dan Ukrim Komarudin, Landasan Pendidikan Konsep dan Aplikasinya(Jakarta: PT Radja Grafindo Persada, 2009), 96.
[3] Sukardjo dan Ukrim Komarudin, Landasan Pendidikan Konsep dan Aplikasinya, 96.
[4] Redja Mudyaharjo, Pengantar Pendidikan, 302.
[5] Ibid., 303.
[6] Redja Mudyaharjo, Pengantar Pendidikan, 303-305.
[7] Redja Mudyaharjo, Pengantar Pendidikan, 306-307.
[8] Redja Mudyaharjo, Pengantar Pendidikan, 306-308.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SISTEM DAN KEBIJAKAN PENDIDIKAN DI IRAN

PENANGGUNG JAWAB PENDIDIKAN MENURUT AJARAN ISLAM

PUASA