KONSEP SEKOLAH ALAM


KONSEP SEKOLAH ALAM
Makalah ini ditujukan untuk memenuhi tugas
“Tekhnologi Pendidikan”

PNG.png
Disusun oleh  :
Ines Wulandari               (210315070)
Rofida Faizatul M.         (210315055)
Ulfa Munirul J.               (210315050)
Dosen Pengampu:

PROGAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
JURUSAN TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
(IAIN) PONOROGO

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Sesuai dengan hakikatnya pembelajaran yang ideal adalah proses pembelajaran yang berpusat pada siswa dengan menekankan pada pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah. Pendidikan alam  diarahkan untuk inkuiri sehingga dapat membantu peserta didik untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam serta pengalaman untuk mencari tahu dengan cara mengamati, mengukur, menggolongkan, mengajukan pertanyaan, mengklasifikasikan, mengolah dan menganalisis data, menerapkan ide pada situasi baru menggunakan peralatan sederhana serta mengkomunikasikan informasi dalam berbagai cara yaitu dengan gambar, lisan, tulisan dan sebagainya. Proses pembelajaran yang fun learning di alam terbuka dengan pendekatan tematik untuk menghasilkan pendidikan yang bermakna karena materi pembelajaran bersifat integratif, komprehensif dan aplikatif, sekaligus juga lebih “membumi”. Untuk penjelasan secara lebih lanjut maka, kami akan membahasnya secara lebih lanjut mengenai sekolah alam.
B.     Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian dan tujuan sekolah alam?
2.      Bagaimana kurikulum pada sekolah alam?
3.      Bagaimana langkah-langkah dalam menggunakan lingkungan alam sebagai media pembelajaran? Serta apa kekurangan dan kelebihannya?
4.      Apa manfaat sekolah alam?
C.    Tujuan Masalah


BAB II
PEMBAHASAN
A.    Konsep Sekolah Alam
Sekolah pada umumnya berarti sebagai lembaga ataupun suatu organisasi yang besar dengan segenap kelengkapan perangkatnya, ataupun bisa diartikan sebagaisejumlah orang yang sedang melakukan aktivitas belajar mengajar di sebuah gedung atau bangunan yang berjalan sesuai dengan jadwal. Sekolah dalam bahasa aslinya berasal dari kata skhole, scola, scolae, atau schola (latin). Kata tersebut secara harfiah berarti waktu luang atau waktu senggang. Zaman dahulu orang Yunani mengisi waktu luangnya dengan mengunjungi suatu tempat atau seseorang yang pandai ntuk menanyakan hal ihwal yang mereka rasakanperlu dan butuh untuk mereka ketahui. Sedangkan alam dalam bahasa Indonesia berarti segala sesuatu yang ada di langit dan bumi.[1]
Sekolah Alam adalah sekolah dengan konsep pendidikan berbasis alam semesta. Secara ideal, dasar konsep tersebut berangkat dari nilai-nilai Qur’an dan Sunnah, yang menyatakan bahwa hakikat penciptaan manusia adalah untuk menjadi pemimpin, khalifah di muka bumi.[2]
Tujuan sekolah alam dalam pendidikan adalah membantu anak didik tumbuh menjadi manusia yang berkarakter. Menjadi manusia yang tidak saja mampu memanfaatkan apa yang tersedia di alam, tetapi juga mampu mencintai dan memelihara alam lingkungannya.[3] Selain itu pendidikan alam diharapkan dapat menjadi prospek pengembangan lebih lanjut dalam menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Proses pembelajaran di sekolah alam menekankan pada pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah. Pendidikan alam diarahkan untuk inkuiri dan berbuat sehingga dapat membantu peserta didik untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang alam sekitar melalui proses “mencari tau” dan “berbuat” sehingga membantu peserta didik untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam. Pengalaman untuk mencari tahu atau berbuat tersebut dinamakan dengan ketrampilan proses penyelidikan atau “enquiry skills” yang meliputi mengamati, mengukur, menggolongkan, mengajukan pertanyaan, mengklasifikasikan, mengolah dan menganalisis data, menerapkan ide pada situasi baru menggunakan peralatan sederhana serta mengkomunikasikan informasi dalam berbagai cara yaitu dengan gambar, lisan, tulisan dan sebagainya. Ketramppilan proses tersebut dapat mengembangkan sikap dan nilai yang meliputi rasa ingin tahu, jujur, sabar, terbuka, tidak percaya tahayul, kritis, tekun, ulet, cermat, disipln, peduli terhadap lingkungan, memperhatikan keselamatan kerja dan bekerja sama dengan orang lain.[4]
sementara itu, kita meyakini pula bahwa alam dan keimanan merupakan dua dimensi yang berjalan berdampingan, memberikan sentuhan yang tanpa terasa merupakan point terbesar dalam mengisi jiwa dan sanubari yang terdalam. Alam juga menjadikan seorang individu sebagai eksplorer-eksplorer kecil yang penuh dengan rasa ingin tahu, punya kepedulian terhadap kelangsungan siklus hidup seluruh makhluk ciptaan Allah SWT, sebagai pribadi yang memunyai tenggang rasa begitu besar terhadap sesama manusia dan mengenal keagungan yang asli kepada Sumber dari Segala Kearifan.[5]


B.     Kurikulum Sekolah Alam
inti dari kurikulum ini adalah pengakuan pemerintah untuk mengembangkan atau menumbuhkan kompetensi dari setiap peserta didik. Pemerintah telah menyadari bahwa banyak yang hilang dari peserta didik dengan menggunakan kurikulum yang lalu, antara lain hilangnya kreativitas, karakter, dan kecakapan hidup dari peserta didik. Kurikulum yang lalu tidak bisa mengakomodasi perbedaan yang ada pada masing-masing individu peserta didik. Tidak cukup itu saja. Guru pun tak dapat banyak berbuat karena apa yang akan disampaikan pada peserta didik telah di bakukan dan dijadikan target pembelajaran kepada peserta didik, sehingga tiada ruang bagi guru untuk mengembangkan kreativitasnya. Para perumus konsep kurikulum baru (KBK) menyadari dan meyakini bahwa harus ada perubahan yang cukup radikal. Nilai bukan satu-satunya tujuan peserta didik bersekolah. Perumus kurikulum pun meyakini kontekstual teaching learning sebagai sesuatu yang tidak bisa ditawar lagi, suatu pengakuan terakomodasinya perbedaan di masyarakat.[6]
Sementara itu, sejak tahun 1998 angin segar telah di embuskan dari sebuah tempat di bilangan Cianjur, Jakarta Selatan oleh rekan-rekan dari Sekolah Alam yang tiada lelah dan penuh semangat mengusung sebuah konsep baru dalam pendidikan kita. Mereka menuangkan ide cemerlang yang di tuangkan dalam suatu metode sederhana “Sekolah Untuk Semua”. Tidak hanya siswa yang mengalami proses belajar, Guru, Orang tua, dan seluruh pendukung sekolah pun mengalami proses belajar. Kreativitas seluruh pihak di eksplorasi sehingga memunculkan peserta didik yang kompeten.[7]
Di Sekolah Alam, anak-anak tidak hanya belajar di kelas. Mereka belajar dimana saja dan pada siapa saja. Mereka belajar tidak hanya dari buku, tetapi juga dari apa saja yang ada di sekelilingnya. Mereka di arahkan untuk belajar secara aktif dan mandiri, guru lebih berperan sebagai fasilitator. Dan yang jelas mereka belajar tidak untuk mengejar nilai, tetapi untuk bisa memanfaatkan ilmunya dalam kehidupan sehari-hari.[8]
Metode pembelajaran yang digunakan untuk mendukung suasana tersebut, yaitu metode “spider Web” (Tematik), dimana suatu tema diintegrasikan dalam semua mata pelajaran. Dengan demikian, pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran bersifat integratif, komprehensif dan aplikatif, sekaligus juga lebih “membumi”. Kemampuan dasar yang ditumbuhkan pada anak-anak di SA adalah kemampuan membangun jiwa keingintauan, melakukan observasi, membuat hipotesis, serta berpikir ilmiah. Dengan metode “spider web”, mereka belajar tidak hanya dengan mendengar penjelasan guru, tetapi juga dengan melihat, menyentuh, merasakan dan mengikuti keseluruhan proses dari setiap pembelajaran. Sekolah Alam berusaha membangun kemampuan-kemampuan dasar anak yang membuatnya proaktif dan adaptif terhadap perubahan-perubahan lingkungan. Kemampuan berpikir logis misalnya. Seorang anak yang mampu berpikir logis, lebih penting daripada sekedar mendapat nilai tinggi dalam matematika. Sebab kemampuan itu yang memberikan kekuatan “mencerna” masalah-masalah hidupnya. Begitu juga latihan outbond, yang melatih keberanian, kesabaran, keuletan, kerjasama tim dan kepemimpinan. Latihan ini membangun struktur mentalitas mereka secara kuat yang membuat mereka tahan terhadap goncangan-goncangan hidup.[9]
Selain metode diatas terdapat pula teknik yang dilakukan, bagaimana caranya mengolah alam sebagai media pembelajaran. Diantaranya:
1.      Cara pertama dengan survey, yakni peserta didik mengunjungi lingkungan masyarakat setempat untuk mempelajari proses sosial, budaya dan kependudukan. Kegiatan belajar dilakukan siswa melalui observasi, wawancara dengan beberapa orang yang dianggap perlu, mempelajari data dan lain-lain. Hasinya dicatat dan dilaporkan di sekolah untuk dibahas bersama dan disimpulkan oleh guru dan siswa untuk melengkapi bahan pembelajaran.
2.      Cara kedua dengan berkemah. Kemah memerlukan waktu yang cukup sebab peserta didik harus dapat mengahayati bagaimana kehidupan alam. Kemah sangat cocok untuk mempelajari ilmu pengetahuan alam. Peserta didik dituntut merekam apa yang ia alami, rasakan, lihat dan kerjakan selama kemah berlanngsug.
3.      Cara ketiga adalah karyawisata. Dalam pengertian pendidikan karyawisata adalah kunjungan peserta didik ke luar kelas untuk mempelajari objek tertentu sebagai bagin integral dari kegiatan kurikuler di sekolah. Sebelum melakukan karyawisata sebaiknya direncanakan objek yang akan dipelajari dan cara mempelajarinya serta kapan sebaiknya dipelajari. Objek wisata harus sesuai dengan bahan pembelajaran.[10]

C.    Langkah-Langkah Penggunaan Alam sebagai Media pembelajaran serta Kekurangan dan Kelebihannya
Langkah persiapn guru dalam penggunaan lingkungan sebagai media belajar yaitu sebagai berikut:
1.      Peserta didik menentukan tujuan belajar yang diharapkan yang berkaitan dengan penggunaan lingkungan sebagai sumber belajar.
2.      Menentukan objek yang akan dipelajari dan dikunjungi.
3.      Menentukan cara belajar peserta didik pada saat kunjungan berlaku.
4.      Mempersiapkan teknis yang diperlukan untuk kegiatan belajar.[11]
Selain langkah-langkah diatas terdapat pula tentang kekuatan dan kelemahan dalam menggunakan alam sebagai media pembelajaran.berikut merupakan kekuatan dan kelemahannya:
1.       Kegiatan belajar lebuh menarik dan tidak membosankan peserta didik sehingga motivasi belajar siswa akan lebih tinggi.
2.      Hakikat akan lebih berarti sebab peserta didik dihadapkan dalam keadaan alam yang nyata.
3.      Kegiatan belajar lebih komprehensif lebih aktif, kreatif dan menyenangkan.
4.      Sempitnya pandangan guru bahwa kegiatan belajar hanya terjadi di dalam kelas. Ia lupa bahwa tugas belajar siswa dapat dilakukan di luar jam pelajaran baik secara individu maupun kelompok.
5.      Ada kesan dari guru dan peserta didik kegiatan mempelajari lingkungan memerlukan waktu yang cukup lama, sehingga menghabiskan waktu belajar di kelas.[12]
6.      Kegiatan belajar kurang dipersiapkan pada waktu peserta didik dibawa ke tujuan atau dengan kata lain tidak melakukan kegiatan belajar yang diharapkan sehingga ada kesan main-main.
Menguatkan pendidikan lingkungan di sekolah dari sudut pandang ini sebenarnya jiga berarti membawa kurikulum sekolah ke arah yang lebih kontekstual, membumi, dan mengakar dengan keadaan dan kebutuhan masyarakat tempat murid itu berasal.  Di tengah iklim pendidikan formal yang terkesan textbook dan kaku, sungguh kegiatan peduli lingkungan dengan impian akan jaringannya yang kuat akan tampak sebagai sesuatu yang sangat menarik untuk terus ditekuni.
Intinya, dalam aktivitas pendidikan lingkungan akan memiliki banyak nilai lebih yang juga akan sangat relevan dengan peningkatan mutu pendidikan serta pembentukan generasi muda yang lebih berkarakter. Di samping untuk melatih menuturkan pengalaman dan gagasan melalui media tulisan, menuliskan catatan pengalaman dalam kegiatan lingkungan dan membagikan pengalamanmereka yang cukup kaya itu.[13]

D.    Manfaat Sekolah Alam
Manfaat dari adanya sekolah alam adalah bahwa anak-anak itu mampu untuk mengebangkan potensi yang dimilikinya. Sikap seperti inilah yang akan membebaskan seorang guru dari perangkap membelenggu, dan megerdilkan, potensi anak-anak. Kepercayaan akan dicerminkan lewat pemberian kesempatan kepada anak-anak untuk melakukan, atau mengalami, suatu tindakan dan kemudian membiarkan mereka belajar dari pengalaman tersebut.
Membina kemandirian dan kepemimpinan siswa yang dilakukan dalam rangka untuk membentuk suatu karakter yang positif dalam diri anak. Selain itu memunculkan siswa memiliki hasrat untuk memajukan diri, rasa ingin tau yang besar, multitrampil, memiliki rasa humor dan antusiasisme tinggi dalam mengikuti berbagai kegiatan disekolah serta memberika wawasan yang luas terhadap peserta didik.[14] Selain itu pendidikan sekolah alam membantu peserta didik dalam menerapkan pemahamannya terhadap bagaimana seseorang harus belajar dan bagaimana menerapkan sesuatu yang dipelajari pada situasi baru.[15]




DAFTAR PUSTAKA

Musfiroh, Ani. Konsep dan Implementasi Sekolah Kehidupan di Sekolah Dasar Sanggar Anak Alam Nitiprayan Kasihan Bantul Jogjakarta dalam Perspektis Islam. Yogyakarta, 2010.
Komunitas Sekolah Alam. Menemukan Sekolah yang Membebaskan Perjalanan Menggapai Sekolah yang Mendidik Anak Menjadi Manusia yang Berkarakter. Tangerang: PT Kawan Pustaka, 2005.
Maryati. Sekolah Alam, Alternatif Pendidikan Sains yang Membebaskan dan Menyenangkan. Yogyakarta, 2007.
Sumantri, Mohamad Syarif. Strategi Pembelajaran. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2015.
Mushtafa. Sekolah dalam  Himpitan Google dan Bimbel. PT.LKIS Printing Cemerlang, 2013.
Maisaroh, Enong. Implementasi PembealajaranBerbasis Pengalaman dalam Membina Kemandirian dan Kepemimpinan Siswa. Yogyakarta, 2012.



        [1] Ani Musfiroh, Konsep dan Implementasi Sekolah Kehidupan di Sekolah Dasar Sanggar Anak Alam Nitiprayan Kasihan Bantul Jogjakarta dalam Perspektis Islam(Yogyakarta, 2010), 10.
       [2] Komunitas Sekolah Alam, Menemukan Sekolah yang Membebaskan Perjalanan Menggapai Sekolah yang Mendidik Anak Menjadi Manusia yang Berkarakter(Tangerang: PT Kawan Pustaka 2005), 10.
       [3] Komunitas Sekolah Alam, Menemukan Sekolah yang Membebaskan Perjalanan Menggapai Sekolah yang Mendidik Anak Menjadi Manusia yang Berkarakter, 10.
       [4] Maryati, Sekolah Alam, Alternatif Pendidikan Sains yang Membebaskan dan Menyenangkan(Yogyakarta, 2007), 181.
       [5] Komunitas Sekolah Alam, Menemukan Sekolah yang Membebaskan Perjalanan Menggapai Sekolah yang Mendidik Anak Menjadi Manusia yang Berkarakter, 30.
       [6] Komunitas Sekolah Alam, Menemukan Sekolah yang Membebaskan Perjalanan Menggapai Sekolah yang Mendidik Anak Menjadi Manusia yang Berkarakter, 35.
       [7] Ibid.
       [8] Komunitas Sekolah Alam, Menemukan Sekolah yang Membebaskan Perjalanan Menggapai Sekolah yang Mendidik Anak Menjadi Manusia yang Berkarakter, 10.
       [9] Maryati, Sekolah Alam, Alternatif Pendidikan Sains yang Membebaskan dan Menyenangkan(Yogyakarta, 2007), 187.
[10] Mohamad Syarif Sumantri, Strategi Pembelajaran (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada,2015), 403.
       [11] Mohamad Syarif Sumantri, Strategi Pembelajaran, 404.
       [12] Ibid., 405.
       [13] Mushthafa, Sekolah dalam  Himpitan Google dan Bimbel (PT.LKIS Printing Cemerlang, 2013, 270-271.)
       [14] Enong Maisaroh, Implementasi PembealajaranBerbasis Pengalaman dalam Membina Kemandirian dan Kepemimpinan Siswa(Yogyakarta, 2012), 15.
        [15] Mohamad Syarif Sumantri, Strategi Pembelajaran, 400.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SISTEM DAN KEBIJAKAN PENDIDIKAN DI IRAN

PENANGGUNG JAWAB PENDIDIKAN MENURUT AJARAN ISLAM

PUASA