efektivitas dakwah


EFEKTIVITAS APLIKASI DAKWAH
Makalah ini ditujukan untuk memenuhi tugas
“Psikologi Dakwah”
Description: Description: PNG.png
Disusun oleh
kelompok 3/ PAI.B/ semester 6:
1.      Rofida Faizatul M.            (210315055)   
2.      Jihan Adiba                       (210315061)
3.      Inayatur Rosyidah                        (210315067)
Dosen Pengampu:
Sunartip, M. SY.

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
(IAIN) PONOROGO

BAB II
PEMBAHASAN
A.    MAKNA PENGERTIAN
Pengertian artinya penerimaan secara cermat isi stimulus. Maka setiap pelaku dakwah harus menaruh perhatiannya yang mendalam. Karena perbedaan yang timbul akibat salah memberi tanggapan atau salah tafsir akan menjauhkan dari tujuan dakwah itu sendiri.[1]
Dengan begitu, pengertian disini yakni memberikan suatu pengertian/kefahaman terhadap orang lain agar is mengerti. Dengan begitu maka pelaku dakwah harus benar-benar mengerti dari isi informasi yang ia sampaikan agar tidak terjadi kesalah fahaman antara masyarakat.
B.     KESENANGAN
Tidak semua dalam berdakwah kita hanya menyampaikan informasi dalam bentuk pengertian, akan tetapi kita harus mampu memberikan kesenangan pada setiap mad’u. Jika tidak, maka bisa dikatakan bahwa dakwah yang dilakukan bisa gagal, sehingga mad’u tidak semakin mendekati Nur Ilahi, tetapi semakin menjauh dari islam itu sendiri.[2]
C.    MEMPENGARUHI SIKAP
Dalam ilmu psikologi terdapat dua hal yang sangat erat, yakni antara jiwa dan sikap. Didalam ajaran islam pula terdapat ajaran tentang bagaimana cara melakukan perintah Tuhannya, sehingga tanpa sadar manusia tersebut telah melaksanakan perintah-Nya dengan menjadi hamba-Nya yang taat dan baik.
Contoh bahwa dalam memberikan bimbingan kepada manusia  adalah jika ada manusia yang melanggar norma-norma yang berlaku, maka akan timbul rasa menyesal dalam dirinya, sehingga dengan begitu manusia tersebut secara perlahan akan berusaha untuk memperbaiki sikapnya. Psikologi memandang hal tersebut adalah penghukuman terhadap dirinya sendiri, karena dengan perbuatan melanggar norma-norma tersebut, jiwa mereka akan menjadi tertekan, kotor dan gelap apabila yang bersangkutan tidak dapat mengalihkan perbuatan yang lebih baik. Hal tersebut diartikan bahwa pendidikan agama ataupun nasihat-nasihat yang baik sangat diperlukan untuk memberikan jalan (pembersihan jiwa) kepada orang yang melakukan pelanggaran-pelanggaran yang ia lakukan.[3]
Dengan demikian, maka dapat diartikan bahwa dengan adanya nasihat-nasihat yang baik akan memunculkan suatu perasaan yang mendalam. Dimana seseorang yang mendapatkan sebuah nasihat tersebut akan memaknainya sendiri. Sehingga dengan begitu ia akan berfikir dan berupaya untuk memperbaiki dan mengubah sikapnya dari yang belum baik ke arah yang lebih baik.
D.    HUBUNGAN SOSIAL
Dakwah juga merupakan tempat untuk menumbuhkan hubungan sosial yang baik, mengingat manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri. William Schutz, sebagaimana yang dikutip Drs. Jalaluddin Rahmat, M.Sc., 1998, 16, merinci kebutuhan sosial ini dalam tiga hal, yakni inclusion, control, affection. Kebutuhan sosial merupakan kebutuhan untuk menumbuhkan dan mempertahankan hubungan yang memuaskan dengan orang lain dalam interaksi dan asosiasi (inclusion), pengendalian dan kekuasaan (control), serta cinta dan kasih sayang (affectioin). [4]
Dalam berdakwah, seharusnya kita dapat untuk menumbuhkan hubungan interpersonal yang harmonis dan tidak membawa perpecahan diantara anggota masyarakat. dengan begitu maka dalam berdakwah dibutuhkan strategi dan pendekaatan-pendekatan jiwa sehingga nantinya akan tercapai islam yang “rahmatan lil ‘alamin”.[5]
E.     TINDAKAN
dengan adanya dakwah persuasif, maka sebagai langkah lebih lanjut yakni adanya tindakan. Dakwah untuk merealisasikan pengertian (poin pertama) memang sukar, dan lebih sulit lagi jika dakwah untul melahirkan suatu tindakan yang nyata. Misalnya kita menanamkan pengertian tentang shalat, mungkin hal tersebut lebih mudah daripada dengan target kita agar orang lain mampu shalat dengan baik. Namun tolak ukur efektifitas dakwah biasanya diukur dengan tindakan tersebut.[6]






                                                         



[1] Totok, 30-31.
[2] Totok, 31-32.
[3] Abu Ahmadi, Psikologi Umum (Jakarta: Rineka Cipta, 2009),30.
[4] Totok Jumantoro, Psikologi Dakwah dengan Aspek-Aspek Kejiwaan yang Al-Qur’an, 35.
[5] Totok Jumantoro, Psikologi Dakwah dengan Aspek-Aspek Kejiwaan yang Al-Qur’an, 35.
[6] Totok Jumantoro, Psikologi Dakwah dengan Aspek-Aspek Kejiwaan yang Al-Qur’an (Jakarta: Sinar Grafika, 2001), 36.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SISTEM DAN KEBIJAKAN PENDIDIKAN DI IRAN

PENANGGUNG JAWAB PENDIDIKAN MENURUT AJARAN ISLAM

PUASA