KARAKTER DAN PRINSIP-PRINSIP PTK


KARAKTER DAN PRINSIP-PRINSIP PTK
Makalah ini ditujukan untuk memenuhi tugas
“Metodologi Penelitian Tindakan Kelas”
Disusun oleh
kelompok 1/ PAI.B/ semester 6:
1.      Indah Nurmawati              (210315059)
2.      M. Hilal Rizaldy               (210315045)
3.      Rofida Faizaatul M.          (210315055)   
Dosen Pengampu:
Dr. Ju’Subaidi, M. Ag.

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
(IAIN) PONOROGO
MARET 2018

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Suatu penelitian yang baik sudah tentu akan terkonsep dengan baik pula.
B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana pengertian penelitian tindakan kelas?
2.      Bagaimana karakteristik penelitian tindakan kelas?
3.      Bagaimna prinsip-prinsip penelitin tindakan kelas?


BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Penelitian Tindakan Kelas
Secara harfiah, penelitian tindakan kelas berasal dari bahasa Inggris, yaitu Classroom Action Research, yang berarti action research (penelitian dengan tindakan) yang dilakukan di kelas. Adapun pengertian penelitian tindakan kelas menurut Ahli:
1.      Menurut Arikunto, penelitian tindakan kelas adalah pencermatan dalam bentuk tindakan terhadap kegiatan belajar yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas secara bersamaan.[1]
2.      Menurut Car dan Kemmis, penelitian tindakan kelas adalah pencermatan yang dilakukan oleh orang-orangyang terlibat didalamnya (guru, peserta didik, kepala sekolah) dengan menggunakan metode refleksi diri dan bertujuan untuk melakukan perbaikan di berbagai aspek pembelajaran.[2]
Istilah penelitian tindakan kelas yang dipakai dalam wacana adalah penelitian tindakan emansipatoris. Emansipasi dalam pemahaman bahasa Indonesia mempunyai makna perbaikan nasib, peningkatan status, atau perjuangan kesetaraan. Penelitian Tindakan Kelas bersifat emansipatoris dan membebaskan karena penelitian ini mendorong kebebasan berpikir dan berargumentasi pada pihak siswa dan mendorong guru untuk bereksperimen, meneliti dan menggunakan kearifan dalam mengambil keputusan atau judgment.[3]
Penelitian tindakan kelas adalah salah satu jalan yang terbuka untuk para pendidik yang ingin menambah ilmu pengetahuan, melatih praktik pembelajaran di kelas dengan berbagai model yang akan mengaktifkan guru dan siswa, mencoba melakukan  penelitian secara reflektif melakukan kritik terhadap kekurangan dan berusaha memperbaiki agar pendidikan benar-benar dapat menjadi bidang profesi. Penelitian tindakan kelas adalah suatu gerakan sosial untuk perbaikan dan peningkatan kualifikasi guru, agar guru merasa percaya diri dalam menjalankan profesinya dan dengan demikian mendapatkan harga dirinya.[4]
Penelitian kelas merupakan salah satu bentuk penelitian yang valid karena ia menghasilkan hipotesis-hipotesis yang diperoleh melalui proses penyelidikan yang rigorus dan didasarkan pada data yang kepadanya hipotesis-hipotesis tersebut diterapkan. Selain itu guru seharusnya membuka diri untuk dikritik atas karya-karya mereka dan jika mungkin memublikasikannya.[5]
Dengan demikian penelitian tindakan kelas adalah pencermatan yang dilakukan guru didalam kelasnya sendiri melalui refleksi diri, yang bertujuan untuk memperbaiki profesinya sebagai guru sehingga hasil belajar peserta didik terus meningkat dalam berbagai aspek pembelajaran.

B.     Karakteristik Penelitian Tindakan Kelas
1.      Guru merasa bahwa ada permasalahan yang mendesak untuk segera diselesaikan di dalam kelasnya
Dengan kata lain, guru menyadari bahwa ada sesuatu dalam praktik pembelajarannya yang harus dibenahi, dan ia terpanggil untuk melakukan tindakan-tindakan tertentu untuk memperbaiki persoalan tersebut. Penelitian Tindakan Kelas akan dapat dilaksanakan jika, guru memang sejak awal menyadari adanya persoalan yang terkait dengan proses dan produk pembelajaran yang dihadapi di kelas, kemudian dari persoalan itu guru menyadari pentingnya persoalan tersebut untuk diperoleh secara profesional. Jika guru merasa bahwa apa yang dia praktikkan sehari-hari di kelas tidak bermasalah maka PTK tidak diperlukan.[6]
Dengan demikian, masalah dalam PTK berasal dari permasalahan nyata dan aktual yang terjadi dalam pembelajaran di kelas. Dengan kata lain, PTK berfokus pada masalah praktis bukan problem teoritis.[7]
PTK merupakan bagian penting dari upaya pengembangan Profesinalisme guru, karena PTK mampu membelajarkan guru untuk berfikir kritis dan sistematis, mampu membiasakan guru untuk menulis, dan membuat catatan.[8]
2.      Refleksi Diri
Refleksi yang dimaksud disini adalah refleksi dalam pengertian melakukan intropeksi diri, seperti guru mengingat kembali apa saja tindakan yang telah dilakukan di dalam kelas, apa dampak dari tindakan tersebut, mengapa dampaknya menjadi demikian, dan sebagainya. Atas dasar refleksi yang seperti itu, maka guru dimungkinkan untuk memeriksa dirinya sendiri, terutama terkait kelemahan dan kelebihan dari pola pembelajaran yang telah ia praktikkan. Kemudian, dari situ ia berusaha mengatasi berbagai kelemahan tersebut dengan tetap melanjutkan dan menyempurnakan apa yang telah menjadi kelebihannya.[9]
Disini guru memiliki peran ganda, yakni sebagai peneliti di satu sisi sebagai pengajar. Walaupun demikian, peran tersebut seyogyanya tidak boleh saling mengganggu dan mengacaukan selama PTK. Artinya guru yang sedang melakukan PTK tidak boleh mengubah kebiasaan proses pembelajaran sebelum ada temuan baru yang merekomendasikan harus ada perubahan pada pola pembelajaran.[10]
3.      Penelitian Tindakan Kelas dilakukan di dalam kelas
Kelas yang dimaksud disini tidak sebatas pada sebuah ruang tertutup yang dibatasi dinding dan pintu. Kelas yang sesungguhnya adalah semua “tempat” dimana terjadi proses pembelajaran antara guru dan siswa. Jadi, boleh-boleh saja PTK dilakukan di ruang terbuka, seperti dalam pelajaran olahrarga yang dilakukan dilapangan, yang terpenting dalam PTK bukanlah kelas atau ruangnya, tetapi fokus perhatian penelitian kepada proses pembelajaran dalam bentuk interaksi guru dan siswa.
4.      Penelitian Tindakan Kelas bertujuan untuk memperbaiki pembelajaran secara terus menerus
PTK bertujuan untuk memperbaiki proses pembelajaran yang dilakukan secara bertahap dan secara terus-menerus selama PTK dilakukan.[11]Siklus demi siklus di dalamnya harus mencerminkan perbaikan demi perbaikan yang dicapai. Siklus sebelumnya merupakan dasar bagi siklus selanjutnya. Tentu, hasil pada siklus berikutnya seharusnya jauh lebih baik daripada siklus sebelumnya. Jika PTK dilakukan secara berkelanjutan dari siklus yang satu ke siklus yang lain, maka akan ditemukan model pembelajaran yang terbaik.[12]
5.      Penjembatan antara teori dan praktik
PTK dapat menjembatani kesenjangan antara teori dan praktik pendidikan. Hal itu dapat terjadi karena setelah Anda meneliti kegiatan-sendiri di kelas Anda -dengan melibatkan siswa- Anda akan memperoleh balikan yang bagus dan sistematis untuk perbaikan praktik pembelajaran. Dengan demikian. Anda dapat membuktikan apakah suatu teori pembelajaran dapat diterapkan dengan baik atau tidak di kelas. Anda juga dapat mengadaptasi atau mengadopsi teori tersebut untuk diterapkan di kelas agar pembelajarannya efektif dan efisien, optimal, serta fungsional.[13]

C.    Prinsip-Prinsip Penelitian Tindakan Kelas
Prinsip adalah pegangan, dan salah satu fungsi prinsip atau pegangan adalah untuk pedoman.
1.      PTK dilakukan dalam lingkungan pembelajaran yang alamiah
Penelitian tindakan kelas (PTK) dilakukan secara alamiah yang berarti penelitian tindakan kelas ini dilakukan dengan alamiah tanpa harus mengganggu pembelajaran apalagi mengubah model atau metode pembelajaran. Artinya PTK ini dilaksanakan pada saat jam pelajaran berlangsung atau dapat dilakukan secara tersirat, dalam hal ini penelitian tindakan kelas tidak mengambil waktu khusus baik sebelum, atau setelah pembelajaran. Penelitian ini dilaksanakan bersamaan (seiring) dengan waktu mengajar guru.[14] Mengubah model atau metode pembelajaran demi kepentingan PTK justru bertentangan dengan tujuan PTK itu sendiri, yakni memperbaiki proses pembelajaran. Disamping itu jika dalam PTK mengubah proses pembelajarannya, kemudian setelah itu kembali seperti semula, maka sebaik apapun hasil PTK tidak bisa diterapkan dalam kelas. Sebab, perubahan pola pembelajaran tidak mungkin dilakukan secara terus-menerus. Oleh karena itu, PTK harus dilakukan dalam konteks pembelajaran yang alamiah (sebagaimana aslinya).[15]
2.      Adanya inisiatif kesadaran diri untuk memperbaiki proses pembelajaran
Disini guru harus peka terhadap persoalan-persoalan  yang muncul dalam pembelajaran. Bahkan, guru dituntut untuk lebih sensitif terhadap prestasi belajar siswa. Sehingga kepekaan dan sensitivitas inilah yang mendorong naluri guru untuk memperbaiki proses pembelajaran.[16]
Penelitian tindakan kelas ini berfungsi untuk memperbaiki kinerja guru dalam proses pembelajaran. Penelitian tindakan kelas ini dilakukan karena masih adanya kekurangan pada saat melakukan pembelajaran sehingga  dimunculkan PTK  untuk memperbaiki kasus atau kendala yang dialami oleh siswa. misalnya, kurangnya minat siswa untuk belajar,  disinilah di butuhkan peran  guru untuk membantu siswa membangkitkan minat siswa belajar dengan menggunakan pendekatan atau strategi. seperti, dengan menggunakan pendekatan, model-model pembelajaran yang sesuai materi yang diajarkan.[17]
3.      Mengunakan Analisis SWOT sebagai Dasar Tindakan
Penelitian tindakan kelas harus dimulai dengan melakukan analisis SWOT, yaitu Strength (kekuatan), Weaknesses (kelemahan), Opportunity (kesempatan), Threat (ancaman). Keempat unsur tersebut hendaknya digunakan dalam analisis terhadap guru yang melakukan tindakan maupun siswa yang dikenai tindakan.[18] Dengan demikian, PTK hanya bisa berjalan jika terdapat kesesuaian antara guru dan siswa. Artinya, inisiatif guru untuk memperbaiki pembelajaran tidak akan berjalan jika siswa tidak mampu mempraktikannya.[19]untuk menemukan inisiatif yang siap diujicobakan inilah guru harus menggunakan analisis SWOT sebagai pijakan berpikir. Sebelum mengidentifikasi yang lain, guru harus mengidentifikasi dirinya sendiri, khususnya dari sudut pandang dua unsur, yakni Strength (kekuatan) dan Weaknesses (kelemahan). Setelah itu identifikasi dari sudut pandang yang sama harus dilakukan kepada anak didik. sedangkan dua unsur yayng lain, yaitu Opportunity (kesempatan) dan Threat (ancaman) digunakan untuk mengidentifikasi faktor-faktor eksternal yang tidak ada dalam diri guru dan siswa. Artinya sebelum guru melakukan tindakan atau uji coba harus mempertimbangkan faktor-faktor eksternal yang dapat dimanfaatkan dan menghindari ancaman yang dapat mengganggu jalannya perbaikan atau uji coba dalam penelitian. Hal ini berkaitan dengan prinsip pertama, yakni PTK harus berjalan secara alamiah dan tidak boleh menimbulkan resiko yang tidak diinginkan.[20]
4.      Adanya upaya secara konkrit
Setelah melakukan analisis SWOT, maka harus berupa “tindakan” secara konkrit, tidak cukup dengan sekedar angan-angan belaka. Akan tetapi tindakan tersebut harus benar-benar konkret dan dapat diterapkan.[21]
5.      Merencanakan secara SMART
Dalam hal ini SMART merupakan singkatan dari lima huruf yang mempunyai arti yag besar dalam perencanaan PTK, yaitu;
a.       Spesific: khusus atau tidak terlalu umum. Misalnya melakukan penelitian untuk pelajaran bahasa indonesia, tetapi hanya satu aspek saja seperti bicara, menulis, atau mendengar. Dengan demikian hasilnya akan spesifik.
b.      Managable : dapat dikelola, dapat dilaksanakan. Artinya lokasi mudah dijangkau, data dapat dikumpulkan dengan mudah, hasilnya dapat dikoreksi dan tidak menyulitkan
c.       Acceptable : dapat diterima, atau Achievable : dapat dijangkau. Artinya, mudah dilakukan, tidak berbelit dan hal-hal lain yang membuat siswa berkeluh kesah atas tindakan yang dilakukan guru dalam penelitian.
d.      Realistic : operasional, tidak diluar jangkauan. Artinya, tidak menyimpang dari tujuan, serta hasilnya bermanfaat baik bagi guru maupun siswa.
e.       Time-bound : diikat oleh waktu, terencana.  Ada schedule dan target yang jelas kapan dilaksanak, kapan diselesaikan dan kapan dapat dilihat hasilnya. Misalnya, PTK tertentu akan dilaksanakan 3 bulan, 4 bulan, 5 bulan maupun seterusnya. Sehingga jika PTK ini akan dilanjutkan ada batasan yang jelas.[22]

BAB III
KESIMPULAN
Dari pembahasan diatas dapat kita simpulkan bahwa:
1.      Pengertian Penelitian tindakan kelas adalah salah satu jalan yang terbuka untuk para pendidik yang ingin menambah ilmu pengetahuan, melatih praktik pembelajaran di kelas dengan berbagai model yang akan mengaktifkan guru dan siswa, mencoba melakukan  penelitian secara reflektif melakukan kritik terhadap kekurangan dan berusaha memperbaiki agar pendidikan benar-benar dapat menjadi bidang profesi. Penelitian tindakan kelas adalah suatu gerakan sosial untuk perbaikan dan peningkatan kualifikasi guru, agar guru merasa percaya diri dalam menjalankan profesinya dan dengan demikian mendapatkan harga dirinya.
2.      Karakteristik penelitian tindakan kelas yaitu guru merasa bahwa ada permasalahan yang mendesak untuk segera diselesaikan di dalam kelasnya, refleksi diri, penelitian tindakan kelas dilakukan di dalam kelas dan PTK bertujuan untuk memperbaiki proses pembelajarn secara terus-menerus.
3.      Prinsip-prinsip penelitian tindakan kelas yaitu PTK dilakukan dalam lingkungan pembelajaran yang alamiah, adanya inisiatif kesadaran diri untuk memperbaiki proses pembelajaran, mengunakan Analisis SWOT sebagai Dasar Tindakan, adanya upaya secara konkrit, merencanakan secara SMART.


DAFTAR PUSTAKA

Arikunto dkk., Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara, 2009.


Daryanto. Penelitian Tindakan Kelas dan Penelitian Tindakan Sekolah Beserta contoh-contohnya. Yogyakarta: Dava Media, 2011.


Hopkins, David. Penelitian Tindakan Kelas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2011.


Komara, Endang. Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: PT Refika Aditama, 2012.


Suyadi. Panduan Penelitian Tindakan Kelas. Jogjakarta: Diva Press, 2012.


Muslich, Masnur. Melaksanakan PTK itu Mudah (Classroom Action Research) Pedoman Praktis bagi Guru Profesional. Jakarta: Bumi Aksara, 2019.




[1] Suyadi, Panduan Penelitian Tindakan Kelas (Jogjakarta: Diva Press, 2012 ), 18.
[2] Ibid., 22.
[3] Endang Komara, Penelitian Tindakan Kelas (Bandung: PT Refika Aditama, 2012), 80-81.
[4] Endang Komara, Penelitian Tindakan Kelas..., 84.
[5] David Hopkins, Penelitian Tindakan Kelas (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2011), 82-83.
[6] Suyadi, Panduan Penelitian Tindakan..., 23-24.
[7] Daryanto, Penelitian Tindakan Kelas dan Penelitian Tindakan Sekolah Beserta contoh-contohnya (Yogyakarta: Dava Media, 2011), 5.
[8] Ibid., 6.
[9] Suyadi, Panduan Penelitian Tindakan..., 25.
[10] Ibid., 26.
[11]Daryanto, Penelitian Tindakan Kelas..., 6.
[12] Suyadi, Panduan Penelitian Tindakan..., 29.
[13]Masnur Muslich, Melaksanakan PTK itu Mudah (Classroom Action Research) Pedoman Praktis bagi Guru Profesional, (Jakarta: Bumi Aksara, 2019), 14.
[14] Suyadi, Panduan Penelitian Tindakan..., 29-30.
[15] Endang Komara, Penelitian Tindakan Kelas dan Peningkatan..., 85-86.
[16] Ibid., 86.
[17] Arikunto dkk., Penelitian Tindakan Kelas (Jakarta: Bumi Aksara, 2009), 14.
[18] Endang Komara, Penelitian Tindakan Kelas dan Peningkatan..., 87.
[19] Suyadi, Panduan Penelitian Tindakan...,33.
[20] Endang Komara, Penelitian Tindakan Kelas dan Peningkatan ..., 87.
[21] Suyadi, Panduan Penelitian Tindakan...,34.
[22] Ibid., 35-36.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SISTEM DAN KEBIJAKAN PENDIDIKAN DI IRAN

PENANGGUNG JAWAB PENDIDIKAN MENURUT AJARAN ISLAM

PUASA